Goa Batu Hapu di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, sedang naik daun bukan karena dibuat ramah kamera semata, melainkan karena ia memang punya panggung alaminya sendiri. Mulut gua yang lebar, dinding karst yang bertekstur, stalaktit dan stalagmit yang terbentuk perlahan, lalu satu momen yang diburu banyak orang, sinar matahari yang masuk dari celah dan jatuh seperti kolom cahaya, sering disebut sebagai “ray of light”. Goa ini juga tercatat sebagai salah satu situs di kawasan Geopark Meratus, sehingga kunjungan ke sini bukan hanya soal rekreasi, tetapi juga mengenal warisan geologi dan cerita masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Goa Batu Hapu berada di Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dalam catatan pengelola Geopark Meratus, Batu Hapu Cave tercantum sebagai Site nomor 44, berada di rute utara, dengan fungsi yang disebutkan untuk riset, edukasi, dan wisata alam. Koordinat lokasi juga dicantumkan pada laman Geopark Meratus, yang membantu wisatawan maupun peneliti memastikan titik kunjungan.
Sebagai daya tarik wisata yang tercatat di Sistem Informasi Pariwisata Nasional Kemenparekraf, Goa Batu Hapu diklasifikasikan sebagai wisata gua dalam kegiatan wisata alam, dengan metode pemesanan langsung di lokasi serta pembayaran tunai. Informasi semacam ini terasa sederhana, tetapi penting untuk menyiapkan rencana kunjungan yang realistis, terutama bagi yang datang dari luar Tapin.
Kenapa gua ini sering disebut bagian dari Geopark Meratus
Penetapan Goa Batu Hapu sebagai bagian dari Geopark Meratus sering muncul dalam pemberitaan karena memperkuat nilai situs ini sebagai warisan geologi. Batu Hapu tercatat sebagai situs ke 44, dan nilai strategisnya menguat setelah kawasan Geopark Meratus ditetapkan, serta penetapan Geopark Nasional pada 2018 oleh Komite Nasional Geopark Indonesia. Dalam pemberitaan lain, cakupan area Geopark Meratus juga disebut lengkap beserta jumlah situs dan pembagian rute.
Karst, stalaktit, stalagmit, dan cara alam membentuk ruang bawah tanah
Begitu memasuki area mulut gua, kesan pertama biasanya bukan “gelap”, melainkan “besar”. Pada banyak gua karst, pintu masuk kerap sempit, tetapi Batu Hapu menampilkan bukaan lebar yang membuat mata cepat menilai skala. Di dalamnya, formasi stalaktit menggantung dari langit langit gua, sementara stalagmit tumbuh dari lantai gua, keduanya bertemu dalam beberapa titik membentuk pilar, semuanya lahir dari proses tetes air jangka panjang yang membawa mineral.
Di sini, detail yang paling menarik untuk wisatawan awam adalah tekstur. Dinding karst tidak rata dan tidak halus, ada alur, tonjolan, juga warna yang dapat berubah mengikuti kelembapan serta pantulan cahaya dari luar. Pengalaman ruang seperti ini paling terasa bila pengunjung memberi waktu, berdiri sejenak tanpa terburu buru, lalu memperhatikan pola alami pada batu.
Perjalanan menuju Goa Batu Hapu relatif mudah untuk ukuran destinasi gua, karena akses jalannya sering disebut sudah cukup baik di beberapa rujukan wisata. Lokasi gua berada di Desa Batu Hapu, dekat Pasar Binuang, dengan jarak sekitar 43 km dari Kota Rantau dan sekitar 154 km dari Kota Banjarmasin. Dari Pasar Binuang, pengunjung masih masuk sekitar 16 km menuju area gua.
Informasi jarak ini berguna untuk menyusun pola perjalanan. Dari Banjarmasin, banyak wisatawan memilih berangkat pagi agar tiba menjelang siang, sehingga peluang mendapatkan ray of light lebih besar. Dari Rantau, perjalanan bisa lebih fleksibel dan nyaman untuk konsep one day trip.(sumber: wonderfulindonesia)






