![]() |
| Uni Emirat Arab melaporkan pencegahan rudal jelajah yang datang dari Iran [File: West Asia News Agency] |
JAKARTA (wartamerdeka.info) - Pertahanan udara di Uni Emirat Arab (UEA) telah mencegat rudal dan serangan drone yang datang dari Iran namun belum ada laporan langsung tentang korban jiwa dan belum ada komentar langsung dari pihak Iran.
Kementerian Pertahanan UEA mengatakan pada Senin sore bahwa mereka mencegat rudal balistik, rudal jelajah, dan drone di seluruh negeri, tiga rudal telah dicegat, dengan yang keempat jatuh ke laut.
Serangan tersebut terjadi ketika ketegangan di Teluk (Hormuz) meningkat, upaya memperpanjang gencatan senjata dalam perang Amerika Serikat-Israel dan Iran gagal mencapai terobosan, sementara retorika tetap tinggi di kedua pihak saat mereka berhadapan mengenai blokade di Selat Hormuz.
Seorang pejabat militer senior Iran kemudian mengatakan di televisi pemerintah bahwa Iran tidak memiliki rencana untuk menargetkan UEA.
Kantor media Fujairah melaporkan, Emirat Fujairah mengatakan sebuah drone Iran memicu kebakaran di fasilitas minyak. Tim pertahanan sipil dikerahkan untuk memadamkan api, tiga warga negara India mengalami luka sedang selama serangan itu dan dibawa ke rumah sakit.
UEA menjadi sasaran serangan balasan dari Iran, dan mencegat serta menghancurkan ribuan pesawat tak berawak dan rudal Iran.
Ketegangan meningkat sepanjang hari Senin setelah Donald Trump menyatakan bahwa militer AS akan memulai operasi untuk membantu kapal-kapal komersial yang terjebak meninggalkan Selat Hormuz yang diblokade dengan memandu mereka melalui jalur air tersebut.
Presiden Trump mengklaim itu adalah upaya kemanusiaan untuk membantu awak kapal yang terdampar.
Sementara itu, media Iran melaporkan bahwa angkatan laut Iran telah menembakkan tembakan peringatan ke kapal perang AS di dekat selat tersebut.
UEA mengutuk keras serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak Barakah di lepas pantai Oman. Dalam laporan perusahaan minyak raksasa negara UEA, ADNOC, tidak ada yang terluka dan kapal tersebut tidak sedang bermuatan.
Seperti diketahui, negosiasi antara Washington dan Teheran telah menemui jalan buntu sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April, dengan cengkeraman Teheran di selat tersebut menjadi poin utama perselisihan.
Gencatan senjata, yang dicapai melalui mediasi Pakistan, diikuti oleh pembicaraan langsung di Islamabad pada 11 April, tetapi tidak ada kesepakatan yang dicapai tentang perdamaian yang langgeng.
Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat waktu baru, setelah permintaan dari Pakistan. (sumber: Al Jazeera)





