TANGERANG (wartamerdeka.info) - Setiap tahun tepian Sungai Cisadane di Kota Tangerang berubah menjadi panggung budaya terbesar dan selalu dihadiri ratusan ribu warga tumpah ruah untuk menyaksikan Festival Cisadane.
Bukan sekadar hiburan, festival ini adalah napas sejarah, ekonomi, dan kebanggaan masyarakat Kota Benteng.
Sejarah dan Pencetus Acara
Informasi yang diperoleh, Festival Cisadane lahir dari dua akar budaya besar Kota Tangerang "Sungai Cisadane" dan "Tradisi Pek Cun".
Sungai Cisadane sejak ratusan tahun lalu adalah urat nadi perdagangan dan transportasi masyarakat Tangerang, khususnya komunitas Tionghoa dan Betawi. Di sinilah para pedagang, perahu, dan budaya bertemu.
Pencetus utama festival modern ini adalah Pemerintah Kota Tangerang bersama Paguyuban Masyarakat Tionghoa Tangerang pada tahun 2008. Awalnya kegiatan hanya berupa lomba perahu naga untuk memperingati Festival Peh Cun atau Duan Wu Jie. Peh Cun adalah tradisi menghormati pujangga Qu Yuan dan menolak bala dengan membuang bakcang ke sungai.
Melihat antusiasme luar biasa, Pemkot Tangerang di bawah kepemimpinan Walikota saat itu mengembangkannya menjadi Festival Cisadane yang lebih besar. Tujuannya: mengangkat Sungai Cisadane sebagai identitas kota dan merekatkan keberagaman warga Tangerang.
Tahun ini, Festival Cisadane mengangkat Tema "Cisadane Bersatu, Tangerang Maju" yang diselenggarakan pada 20 - 26 Juli 2026 di Lokasi: Cisadane River Park & Jembatan Kota Tangerang.
Awal mulanya, 2008 - 2010, Fokus acara utamanya adalah lomba perahu naga dan pasar rakyat kecil di bantaran Kali Cisadane, dikawasan Jembatan Kota. Saat itu Pengunjungnya masih sekitar puluhan ribu.
Kemudian 2011 - 2015 sudah mulai ada penambahan acara dengan ekspansi masalah kebudayaan.
Mulai ada panggung seni, kuliner Nusantara, dan karnaval budaya. Akhirnya Festival Cisadane dijadikan agenda tahunan Pemkot Tangerang. Sejak saat itu nama "Festival Cisadane" resmi dipakai.
Karena semakin dikenal, sejak 2016 - 2019 Festival Cisadane telah menjadi skala Nasional, dan sudah masuk menjadi kalender event nasional Kemenparekraf. Acara pun jadi tambah semarak, karena banyak penambahan acara pertunjukan seperti musik dengan artis lokal dan nasional, pameran UMKM, juga atraksi air. Pengunjung tembus 500 ribu orang.
Namun 2020 - 2022, saat terjadi Masa Pandemi Corona, Festival Cisadane digelar secara virtual dan terbatas. Fokus ke kampanye "Cintai Sungai Cisadane" dan UMKM digital.
Pada tahun 2023 - 2025, Festival Cisadane mulai Bangkit Lebih Meriah.
Setelah pandemi Festival Cisadane kembali dengan konsep "Green River, Creative City". Penataan bantaran sungai dipercantik, ada Cisadane River Park. Jumlah UMKM dan komunitas yang terlibat ambil bagian dalam acara ini meningkat 2x lipat.
Festival Cisadane biasanya digelar selama 5-7 hari di Kawasan Tepian Sungai Cisadane, Jembatan Kota Tangerang, dengan rangkaian acara seperti :
Lomba Perahu Naga Internasional : yang pesertanya terdiri dari Tim dari dalam dan luar negeri, bertanding di Sungai Cisadane. Ini adalah ikon acara utama festival yang paling ditunggu.
Karnaval Budaya Nusantara & Tionghoa, diikuti ratusan peserta dari 13 kecamatan di Kota Tangerang yang menampilkan kostum adat Betawi, Jawa, Sunda, dan Barongsai.
Festival Kuliner Cisadane yang diikuti lebih dari 200an tenant UMKM, dengan aneka makanan seperti Laksa Tangerang, Kue Peh Cun, Sate Bandeng, sampai jajanan kekinian.
Sekarang suasana menjadi lebih meriah karena Sudah dilengkapi Panggung Hiburan & Musik menampilkan band lokal, nasional, dan orkes gambus. Ada juga panggung khusus untuk seniman muda Tangerang.
Pameran UMKM & Ekonomi Kreatif : Dipamerkan dengan berbagai Produk kerajinan, fashion, dan digital dari pelaku usaha Kota Tangerang .
Lomba Foto, Mural, dan Eco Run
Mengajak dan mendidik anak muda untuk peduli lingkungan sungai. Ada juga aksi bersih-bersih Cisadane.
Upacara Tabur Bunga & Peh Cun, tradisi pelemparan bakcang dan doa bersama untuk keselamatan warga.
Tenyata Keberadaan Festival Cisadane memberi dampak besar bagi Kota Tangerang, diantaranya:
Dibidang Ekonomi : Omzet UMKM selama festival bisa mencapai Rp15 - 20 Miliar. Hotel, transportasi, dan pedagang kecil merasakan dampaknya.
Dibidang Pariwisata : Menjadi magnet wisatawan dari Jabodetabek. Nama Kota Tangerang semakin dikenal sebagai kota budaya, bukan hanya kota industri.
Menjadi Pelestarian Budaya : Tradisi Peh Cun, Tari Topeng, dan musik tradisional tetap hidup dan dikenal generasi muda.
Kesadaran Lingkungan : Kampanye "Sungai Bersih" membuat masyarakat lebih peduli tidak membuang sampah ke Cisadane.
Festival Cisadane juga menjadi perekat Sosial dan ruang temu semua etnis di Tangerang : Tionghoa, Betawi, Jawa, Sunda bersatu di tepi sungai.
Pada acara Festival Cisadane saat 2026, Pemkot Tangerang menyiapkan gebrakan baru seperti Lomba Perahu Naga Asia Tenggara dan mengundang 8 negara.
Festival Lampion 1000 Cahaya yang dilaksanakan di malam penutupan.
Zona Digital & Startup Tangerang, ini adalah pameran karya anak muda.
Konser Amal "Cisadane Untuk Sungai", yang hasil donasinya diperuntukkan normalisasi sungai.
Pasar Kreatif 300 UMKM binaan Pemkot Tangerang.
Walikota Tangerang menyampaikan: "Festival ini bukan hanya pesta, tapi komitmen kita menjaga sungai dan budaya. Mari jadikan Cisadane kebanggaan kita bersama."
"Festival Cisadane adalah bukti bahwa ternyata sungai bisa mempersatukan. Dari sejarah perdagangan, menjadi pesta rakyat, dan kini menjadi penggerak ekonomi kreatif" katanya.
Bagi warga Tangerang, datang ke Festival Cisadane bukan hanya untuk nonton. Tapi juga untuk merayakan identitas: air, budaya, dan kebersamaan.(Drianto Martono).

