BREAKING NEWS

Hasil Rapid Test, Bupati Purwakarta Hj Anne Ratna Mustika Dinyatakan Negatif Covid-19

PURWAKARTA  (wartamerdeka.info)   - Hasil pemeriksaan kesehatan yang ketat sesuai protokol penanganan Covid - 19 secara Drive Thru Rapid ...

Kembali Ke Rumah


Oleh: Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid 

(Ketua YPTDI, Yayasan Pendidikan Tinggi dan Dakwah Islam)

Cukup lama sebelum pandemi Covid19 menyebabkan banyak kegiatan harus dilakukan di rumah, Mendikbud Nadiem Makarim sudah meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Intinya satu : kegiatan di sekolah dan di kampus harus dikurangi, sedangkan interaksi dengan masyarakat ditingkatkan. Resep ini lebih sesuai dengan wasiyat lama Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan itu bertumpu pada 3 pilar : keluarga, masyarakat, dan baru perguruan. Merdeka belajar pada dasarnya adalah merdeka dari kungkungan dan monopoli persekolahan. 

Saat pandemi Covid19 makin merajalela, kebijakan social distancing memaksa hampir semua kegiatan belajar dilakukan di rumah dan atau secara daring dengan menggunakan internet. Bagi saya, pandemi ini telah memaksa Sisdiknas lebih patuh pada wasiyat Ki Hadjar Dewantara dan lebih _compliant_ pada prinsip-prinsip UU Sisdiknas yang telah lama dibengkokkan oleh persekolahan sebagai industri dan instrumen teknokratik penyiapan buruh trampil.

Sayang banyak orangtua dan masyarakat tidak memahami peluang besar yang dibawa oleh pandemi Covid19 ini. Cara berpikir lama yang keliru bahwa belajar itu harus di sekolah atau di kampus masih banyak menguasai kesadaran masyarakat. Belajar di rumah seolah harus memindahkan kegiatan di sekolah ke rumah. Persis seperti Pekerjaan Rumah. Padahal, belajar di rumah membuka kesempatan emas bagi warga muda untuk mempelajari banyak hal yang jauh lebih penting dan bermakna daripada yang bisa dipelajari di sekolah.

Pengalaman adalah guru terbaik, bukan guru profesional bersertifikat. Generasi baby boomers yang hidup pasca perang memiliki karakter yang berbeda dengan generasi milenial yang hidup dalam era keberlimpahan.  Anak-anak Palestina di jalur Gaza tumbuh sebagai anak-anak pemberani karena hidup dalam desingan peluru dan ledakan mortir. Membangun perilaku dan akhlaq terpuji hanya bisa dilakukan dalam masyarakat dengan resiko nyata. Sekolah sebagai lingkungan buatan yang relatif aman tidak bisa memberi pengalaman dengan resiko nyata.

Keluarga saat ini dianggap tidak kompeten menyelenggarakan pembelajaran ala sekolah. Memang keliru jika kita meminta orangtua di rumah untuk mengajarkan pembelajaran ala sekolah. Keluarga memiliki tugas lain : memberi pengalaman adab dan akhlaq yang penting melalui teladan adab dan akhlaq orangtua : keberanian berkorban, kejujuran, kesetiaan, kepedulian dan tanggungjawab. Tugas mendidik keluarga ini penting justru untuk menguatkan keluarga. Mengambil alih tugas itu oleh sekolah tidak saja tidak mungkin, tapi juga merusak keluarga sebagai satuan pendidikan yang sah. Kita tidak mungkin membangun masyarakat di atas puing-puing keluarga.

Keluargalah yang menyiapkan sarapan beragam. Masyarakatlah yang menyiapkan makan malam beraneka ragam. Sekolah hanya menyediakan makan siang seragam. Bahkan selama puasa, kita tidak perlu makan siang. Jadi, pandemi Covid19 ini membuka kesempatan emas kita untuk memperbaiki kinerja Sistem Pendidikan Nasional kita yang selama ini terlalu dimonopoli oleh persekolahan. Sekarang tiba saatnya tugas-tugas mendidik warga muda dikembalikan pada keluarga di rumah dan di masyarakat.

Gunung Anyar, 23/3/2020

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kembali Ke Rumah"

Posting Komentar