Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


Sudah Nyaman Dengan LFH (Learning From Home)?


Oleh: Dr E Handayani Tyas 
(Dosen FKIP & Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana UKI Jakarta)

SEGALA sesuatu itu memang harus dibiasakan (di habit kan). Seperti hal nya bangun pagi, kalau seseorang tidak terbiasa untuk bangun pagi, tentu berat rasanya untuk bangun pagi. Namun, apabila bangun pagi itu sudah menjadi kebiasaannya maka dengan sendirinya urusan bangun pagi pasti tidak menjadi masalah lagi baginya.

Berbagai kesulitan yang kita alami bersama saat ini, khususnya dalam hal melaksanakan pembelajaran, yang semula berlangsung secara tatap muka (off line), tetapi dengan pandemi covid-19 yang tak kunjung usai, pembelajaran ‘terpaksa’ harus berlangsung secara tatap maya alias on line. Setiap orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, kepinginnya kesulitan yang dirasakan ini segera berlalu dan berakhir, tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian.

PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) kini justru diberlakukan secara micro, sehingga semakin berat saja rasanya namun, kita tidak harus lemah semangat. Seperti tanah yang harus digali lebih dalam agar menemukan air, begitu pula dengan kesabaran yang juga harus dipertahankan semakin dalam. Pendidik, peserta didik, orangtua dan masyarakat yang peduli pada urusan pendidikan, kiranya mampu melewati masa-masa sulit ini dan mutu pembelajaran harus tetap terjamin bagus sekalipun pembelajaran berlangsung dari rumah (learning from home).

Awalnya menyelenggarakan LFH banyak kendala namun, seiring berjalannya waktu, baik pendidik maupun peserta didik lama-lama menjadi terbiasa. Pembelajaran on line memang ada minusnya, antara lain:

Tidak ada sentuhan kasih sayang secara langsung dalam interaksi antara pendidik dan peserta didik.

Kenal wajah hanya sebatas pada layar google meet/zoom/teams.

Koneksi internet juga kadang-kadang loyo.

Dari ketiga ranah pendidikan (kognitif, afektif dan psikomotorik), hanya unsur kognitif yang lebih dominan, sedangkan afektif dan psikomotorik peserta didik nyaris tak dapat diamati oleh pendidik.

Namun apa daya, pembelajaran secara off line yang telah direncanakan untuk dimulai pada awal Januari 2021 ternyata banyak kendala, karena virus corona itu tak kunjung berlalu dan bila memaksakan diri sangat besar risikonya. Belum lagi pembelajaran yang sifatnya praktek; memang laboratorium virtual sudah digagas, apakah hasilnya dapat optimal?

Pecinta dunia pendidikan tahu bahwa apa yang dikatakan oleh John Dewe (yang sangat terkenal itu), ialah: “If I hear – I forget; If I see – I remember – If I do – I understand”). Bagaimana dengan kualitas pembelajaran yang sebatas dengar dan lihat saja? Memang do (kerjakan) bisa dengan pendidik memberi tugas kepada peserta didiknya (dosen kepada mahasiswa; guru kepada siswa), yang konon akhir-akhir ini sering ‘dikeluhkan’ baik oleh orangtua maupun siswa/mahasiswa. Sepertinya bertubi-tubi dosen/guru menugasi peserta didiknya.

Pertanyaannya, apakah sistem pemberian tugas ini menjadi efektif? Sehingga lagi-lagi kualitas pembelajaran memunculkan tanda tanya besar. Apalagi kita semua tahu bahwa mencari dan menemukan segala yang diperlukan untuk mengerjakan tugas sering dilakukan dengan mengandalkan ‘mbah google’

Sudah seharusnya kita semua pecinta dunia pendidikan tidak melihat sisi negatif (kekurangannya) saja dengan sistem pembelajaran on line ini, karena memang belum waktunya kita menyelenggarakannya secara off line (tatap muka); sampai kapan tak seorangpun yang tahu, bertanya kepada pemerintah, pejabat di bidang pendidikan, guru, sampaipun kepada ‘rumput yang bergoyang’ tak akan kita temukan jawaban yang pasti. Lalu sampai dengan kapan kita harus hidup dengan ketidakpastian gara-gara pandemi covid-19 ini?

Dari pada kita berlelah-lelah memikirkannya, mari kita lihat dari sisi positifnya, antara lain yaitu:

Belajar on line yang dilakukan secara LFH, memberi manfaat terjaganya kesehatan guru – siswa, dosen – mahasiswa.

Kita tidak harus banyak menghirup udara kotor/polusi kendaraan di jalan.

Sangat mungkin terselenggara dengan tepat waktu (karena kadang-kadang baik kuliah, sekolah, rapat, dan lain-lain secara off line sering terlambat, sehingga dari segi waktu menjadi kurang efisien).

Mengurangi stres karena jalanan yang macet.

LFH berdampak dekatnya antara orangtua dan siswa, sehingga ada ketenangan, ada pengawasan melekat, ada pendampingan intensif yang dapat menumbuhkembangkan karakter dan perilaku baik bagi si anak.

Permasalahannya, kebiasaan belajar secara on line ini harus dilakukan secara terus-menerus, sampai pendidik dan peserta didik merasa nyaman, sebab apabila ada rasa tidak nyaman (tertekan/terbeban/terpaksa dan tidak enjoy) maka akan mengakibatkan pembelajaran di semester genap tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang, pasti akan berdampak buruk bagi dunia pendidikan.

Sekalipun pelaksanaan pembelajaran secara on line ini dapat dilakukan secara sinkronus dan a sinkronus (kombinasi), marilah kita tetap bersemangat. Bangsa yang maju adalah bangsa yang peduli pada urusan pendidikan. Oleh karena itu, marilah jangan jemu-jemu untuk membuat terobosan (kreatif dan inivatif) sehingga kualitas pembelajaran tetap solid dan tidak sulit.

Untuk mengakhiri tulisan ini, ijinkan penulis menyuarakan: “Jalani proses – cintai progres – terus lakukan evaluasi”; pasti nyaman! Sejauh sekolah/kampus belum aman dari covid-19, buatlah senyaman mungkin dengan LFH, karena pembelajaran di masa-masa ‘sulit’ seperti sekarang ini masih diwarnai tarik-ulur dan buka-tutup sekolah/kampus dan kondisi ini akan terus terjadi selama pandemi covid-19 belum terkendali.

Posting Komentar untuk "Sudah Nyaman Dengan LFH (Learning From Home)?"