Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


 


Membumikan Pancasila

Oleh : Alfitra Mappunna 

(Mahasiswa Fakultas Hukum UMI)

Indonesia adalah surga titipan tuhan sebagai anugerah kepada umat manusia dalam kehidupan bernegara. Indonesia adalah negara yang menyajikan perjuangan dan keteguhan yang membara oleh para leluhur bangsa dalam mendirikannya yang kemudian hadir membentuk sebuah bangsa bhineka tunggal ika yang bertumbuh dan berkembang seperti bunga yang selalu mekar dan subur disetiap waktu.

Hadirnya Indonesia didasari oleh cita-cita kerakyatan yang menginginkan adanya kemakmuran dalam pergaulan kehidupan. Dalam pandangan rakyat, Indonesia adalah kebangaan yang dimaknai oleh alasan yang beragam. Mulai dari kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya, Keanekaragaman budaya, negara maritim ataupun kepalauan hingga sosok tokoh teladan dengan beragam pergolakan pemikiran dan pengaruh positif yang ditorehkan kepada bangsa dan negara hingga perkembangan peradaban dunia. Namun melihat realitas pergaulan hidup masyarakat telah menjadi sirna dengan adanya praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) serta ujaran kebencian yang dibalut oleh aksi kekerasan dengan sikap kontra terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kebhinekaan kini telah menjadi hal yang lumrah dalam tontonan pergaulan hidup masyarakat. KKN dan ujaran kebencian adalah pola kebiasaan buruk individu yang tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi perikemanusiaan dan perikeadilan dengan menyebabkan Indonesia berkutat pada kemiskinan yang jauh dari kemakmuran dan harapan kebanggaan sontak menggerogoti reaksi duka mendalam dan rasa prihatin tak karuan.

Menelusuri jejak risalah bangsa bersangkut paut dengan hadirnya individu-individu sebagai muara dasar dalam lahirnya bangsa. Tumbuh dan kembang individu telah melahirkan perjalanan panjang yang berintegrasi menjadi bangsa yang utuh, kokoh dan bersatu. Mengoptik potensi individu telah menorehkan lahirnya nilai-nilai kebaikan dan keburukan ibarat benalu dan madu yang mengiris persatuan bangsa menjadi kegaduhan yang tak terarah ataupun menyemarakkan bangsa dengan gairah moralitas. Perwujudan bangsa yang utuh, kokoh dan bersatu dilandaskan oleh masyarakat adil dan makmur yang cendrung berorientasi kepada kemanfaatan sosial dengan menyisihkan konflik sosial sebagai media penguatan bangsa yang sejahtera dengan bertumpuh kepada akses penguatan keadilan bagi bangsa. Kebahagiaan negara di adopsi oleh kebahagiaan masyarakat. Sedangkan kebahagiaan masyarakat berkutat kepada kebahagiaan individu-individu yang mampu menyesuaikan diri kedalam masyarakat (Kepentingan Masyarakat) dengan melahirkan kebersamaan tujuan guna mewujudukan keseimbangan dalam tatanan masyarakat adil dan makmur yang merupakan jaminan kelangsungan hidup.

Pada ranah individu yang didudukkan sebagai benalu adopsi dari model individu dengan mendahulukan kepentingan pribadi yang tidak selaras dengan dasar kehidupan berbangsa, selanjutnya individu juga didudukkan sebagai madu adopsi model individu mengutamakan kepentingan sosial kebangsaan dari kepentingan pribadi serta berperan kolektif berpartisipasi menyuburkan penguatan bangsa. Kendati Individu dalam perspektif kebangsaan digambarkan seperti sebuah pisau yang melukiskan ilustrasi bahwa pandangan individu disebut benalu merupakan respons terhadap penyelewengan tujuan indvidu dalam kehidupan berbangsa yang ideal seperti halnya penjahat menggunakannya untuk mencelakakan manusia dan memudarkan nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya yang bertolak-belakang dengan dokter hendak menggunakan pisau sebagai alat membedah dalam operasi yang merupakan misi kemanusiaan dalam menyelamatkan pasiennya. 

Individu menorehkan rasa cinta tanah air dengan aktualisasi nilai-nilai pancasila dalam kurung waktu 76 tahun Kemerdekaan negara telah membersamai Indonesia dengan pemikiran 5 Dasar yang membangun upaya individu negarawan dalam mewujudkan pergaulan hidup bermasyarakat secara Dinamis yang seyogyanya di tuangkan dalam pemikiran dan tingkah laku kehidupan berbangsa dan bernegara. Refleksi peringatan hari lahirnya Pancasila yang kerap kali diperingati pada 1 Juni dalam setiap tahunnya menjadi momentum refleksi jati diri kebangsaan dalam mengikhtiarkan nilai-nilai Pancasila. Bahtera perjalanan negara bakal menjadi ironi yang menyayat hati jika pancasila tidak terpatri dalam jiwa dan terukir dalam tingkah laku berkehidupan. Rekam jejak sejarah dengan mental perbudakan dan penindasan hendak mengantarkan masyarakat indonesia semakin jauh dari kemajuan. Berkenaan dengan tolak ukur keberhasilan negara dapat dicapai atas korespondensi terhadap mental yang menegasikan segala pikiran berbentuk penindasan, perasaan tidak berdaya dan kehilangan rasa percaya diri. Namun manakala lahirnya segala bentuk kegaduhan dalam realitas kehidupan masyarakat disebabkan oleh masyarakat yang tidak mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Penghayatan nilai-nilai pancasila telah menunjukkan eksistensinya dalam menjawab tantangan dinamika-dinamika kebangsaan yakni perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, perbudakan dan penindasan yang bertolak belakang terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Berkenaan hal tersebut, Ir. Soekarno mengatakan Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia yang turun temurun sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan Barat. Dengan demikian, Pancasila tidak saja dikatakan sebagai falsafah negara tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia. Menurut Guru Besar Sorbonne University yakni Ernest Renan berpandangan bahwa bangsa adalah une nation est un ame yang berarti satu jiwa dan juga une nation est un grand solidarité yang berarti satu bangsa adalah satu solidaritas yang besar. Berkenaan dengan pandangan Renan, sehingga penulis mengartikan bahwa bangsa lahir dan terbentuk menjadi satu jiwa dan solidaritas yang dilandasi oleh adanya persamaan nasib demi terciptanya kesadaran dalam kepentingan bersama serta memiliki rasa persatuan, rasa empati, rasa simpati dan rasa saling percaya terhadap sesama.

Pancasila sebagai isi jiwa bangsa Indonesia berkontemplasi terhadap karakter masyarakat Indonesia yang memacu adanya kesadaran pada diri setiap manusia dalam bernegara yang merupakan suatu keniscayaan untuk menciptakan negara berkemajuan dan lahirnya masyarakat adil makmur melalui implementasi nilai-nilai pancasila dalam pola kebiasaan hidup masyarakat. Masyarakat dalam kepentingan umum menginginkan terwujudnya tatanan masyarakat tertib dan teratur guna melindungi kepentingan manusia secara optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut, masyarakat seyogianya menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam berkehidupan sehari-hari. Merawat rasa cinta tanah air adalah penerapan masyarakat Indonesia yang sadar akan pandangan hidup negara dan identitas kebangsaan sebagai masyarakat pancasila, Rasa cinta tanah air tumbuh kembangnya mental pancasila. Mengutip pada buku Revolusi Pancasila yang dituliskan oleh Yudi Latif menyebutkan bahwa mental dapat diartikan sebagai suasana kejiawaan dan pola pikir (mindset) seseorang atau kelompok. Mental pancasila adalah kemerdekaan terhadap bentuk kolonialisme yang sejatinya hanya menimbulkan penderitaan, penindasan dan perbudakan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai pancasila. Mental pancasila mendobrak perubahan perilaku individu dan membentuk karakter yang berdasar terhadap nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai kebangsaan, nilai demokrasi dan nilai keadilan yang terbagi atas keadialan sosial dan keadilan ekonomi. 

Pancasila adalah jiwa dan nafas dari bangsa yang berorientasi pada kemajuan dalam menjawab tantangan zaman dan permasalahan bangsa dan negara yang diamalkan melalui pemikiran dan tingkah laku individu-individu dalam bernegara. Membumikan pancasila dalam diri setiap individu mewujudkan adanya solidaritas kebangsaan dan daulat rakyat yang bersatu teguh mencapai kesejahteraan. Generasi pembaharu menjelma dari adanya pemikiran dan sanubari yang saling terelaborasi bergerak aktif menuai adanya kepekaan pribadi dalam menjawab problematika kebangsaan dan memiliki mental pancasila atau dalam hal ini disebut sebagai membumikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (*)

Posting Komentar untuk "Membumikan Pancasila"