Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

 


 


Tenggelamnya Kapal Van der Wijck Dan Obsesi Pemkab Lamongan (1)

Oleh : W. Masykar 

TUGU Peringatan itu masih tegak berdiri sebagai saksi bisu tragedi 85 tahun silam di perairan (timur laut) desa (kini Kelurahan) Brondong. 

Tugu yang populer disebut Tugu Van Der Wijck sebagai simbol penghargaan (Peringatan) dari pemerintah Hindia Belanda atas tenggelamnya kapal penumpang mewah milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) di Fyenoord, Rotterdam pada 1921, Van Der Wijck. 

Van Der Wijck sebenarnya adalah nama Gubernur Hindia, Jonkheer Carel Herman Aart van der Wijck (18401914) yang berkuasa 1893-1899

Konon, kapal berlayar  rute Bali- Batavia (Jakarta), singgah di Surabaya dan Semarang. Akan tetapi setelah berangkat meninggalkan Tanjung Perak Surabaya, kapal yang di kapteni B.C Akkeman mengalami kecelakaan di wilayah Kabupaten Lamongan.

Pemerintah Hindia Belanda lantas mengabadikan tragedi kecelakaan itu dengan membangun monumen yang berlokasi di kompleks TPI Brondong (kini TPI dan Pelabuhan Perikanan pindah dikawasan baru dengan sebutan PPDI). 

Tugu peringatan atau monumen peringatan itu, berukuran 2,5 meter x 3 meter dengan tinggi 10 meter. Dibangun sebagai ucapan terima kasih untuk para nelayan Brondong-Blimbing yang telah menolong para korban kecelakaan Kapal Van Der Wijck. Tugu disebelah barat bertuliskan 

"Tanda Peringatan kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktoe Tenggelamnja Kapal Van Der Wijck DDC 19-20 Oktober 1936,". Disebelah nya bertuliskan bahasa Belanda, "Martinus Jacobus Uytererk Radiotelegrafist Aan Boord S.S Van Der Wijck 20 Oktober 1936 Hij Bleef Getrouw Tot In Den Dood Zijn Nagedachtenis Zij EERE. Zijne Vrienden."

85 tahun berlalu, dan tragedi tenggelamnya kapal mewah tersebut selalu menjadi cerita. Bahkan cerita bukan sekedar soal tragedi kecelakaannya, termasuk upaya penelusuran dan pengangkatan bangkai selama ini hanya sebatas penelitian, usaha pengangkatan bangkai nya pun masih selalu dalam bentuk wacana. Belum ada upaya konkret. 

Belakangan, setelah dilantiknya kepala dinas Pariwisata definitif, Pemkab Lamongan langsung tancap gas melakukan kegiatan nyata menelusuri apakah bangkai kapal Belanda itu masih utuh atau tidak, setidaknya jika masih utuh akan diupayakan diangkat untuk dijadikan monumen yang monumental dalam bentuk museum tenggelamnya kapal Van Der Wijck dengan tujuan sebagai objek wisata bahari. 

Kepala Dinas Pariwisata Lamongan, Siti Rubica 

Kepala Dinas Pariwisata Lamongan, Siti Rubica tidak menampik jika upaya menjadikan kawasan tenggelamnya kapal Van Der Wijck sebagai objek wisata. 

"Memang menjadi salah satu opsi pengembangan yang akan dikaji lebih lanjut secara lintas sektoral," ujar Siti Rubica. 

Meski baru sebatas rencana, publik pesisir berharap pemkab Lamongan melalui Dinas Pariwisata obsesi menjadikan kawasan tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sebagai objek wisata sebagai icon Lamongan, bukan sekadar impian, apalagi langkah Dinas Pariwisata ini, cuma pencitraan hanya sekadar menambah deretan panjang narasi yang hanya melengkapi cerita cerita sebelumnya. Bersambung

Posting Komentar untuk "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck Dan Obsesi Pemkab Lamongan (1) "