Pendidikan Bukan Untuk Berkompetisi Tapi Berkolaborasi

Oleh :  Srie Muldrianto (Aktivis Pendidikan di Purwakarta)

Ada seorang teman sesama Aktifis  mengatakan, bahwa hidup ini ibarat kita sedang berada di jalan raya yang penuh dengan kendaraan menuju arah tertentu. Dalam perjalanan itu seharusnya kita menghindari agar tidak terjadi tabrakan, sebab kalau tidak, perjalanan kita bisa terhambat atau bahkan mungkin tidak akan sampai pada tujuan. Oleh karena itu seyogyanya kita saling bekerjasama satu dengan yang lain agar perjalanan kita sampai pada tujuan sesuai dengan yang telah kita rencanakan.

Pendidikan merupakan upaya manusia untuk meraih tujuan hidup agar lebih mudah dan terarah. Lembaga pendidikan bukan tempat untuk gengsi-gengsian tapi tak memberikan manfaat, Lembaga pendidikan bukan penjara sehingga orang menderita, juga bukan tempat orang beraktivitas secara sia-sia sehingga  jangan sampai ada paradigma yang menyebut sekolah atau tidak sekolah sama saja. 

Lembaga pendidikan harus memberikan manfaat dan nilai tambah pada manusia. Oleh karena itu lembaga pendidikan harus dapat diukur tingkat efektivitasnya. Tapi yang lebih penting adalah paradigma awal tentang mutu lulusan, karena pada akhirnya lembaga pendidikan harus dapat diukur tingkat produktivitasnya yaitu selisih antara in-put dan out-put pendidikan.

Apakah yang kita inginkan dari mutu lulusan sekolah kita? Apakah kita menginginkan mutu lulusan menjadi individu yang sukses? Menjadi individu yang dapat menguasai dan mengendalikan sumber daya alam hingga menjadi sukses. Jika kesuksesan yang kita inginkan dari proses pendidikan maka mungkin akan menghasilkan beberapa kesuksesan sebagai berikut:

1.      Toxic success yaitu kesuksesan yang membuat seseorang menderita misalnya seseorang telah mencapai kesuksesan sebagai apapun tapi justru kesuksesannya membawa dia menderita yang akhirnya bunuh diri atau stress.

2.      Kesuksesan yang membuat seseorang berprestasi memiliki pabrik dan perusahaan tapi mencemari lingkungan artinya kesuksesannya membuat orang lain menderita.

3.      Kesuksesan yang hanya membuat dirinya sukses tapi tidak memperdulikan orang lain.

4.      Kesuksesan seseorang yang membawa orang lain sukses, Keberadaan dirinya bermanfaat buat orang lain dan lingkungan yang lebih luas,

Jenis kesuksesan inilah yang menjadi target dari pendidikan. Orang sukses ini adalah orang yang bahagia, orang yang dalam hadits disebut sebaik-baik manusia, Manusia seperti ini adalah manusia yang memiliki tanggungjawab dan peduli dengan orang lain serta lingkungannya

Karena Ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari manusia lain dan bagian dari alam ini, oleh karena itu jalan terbaik baginya membangun kolaborasi dengan orang lain dalam meraih tujuannya. Dia meyakini bahwa keberhasilan dirinya juga dikarenakan oleh orang lain. Dia tidak menganggap dirinya paling benar tapi dia terus berupaya melakukan kebaikan terus menerus karena kebaikan itulah yang akan membawanya pada kebahagiaan.

Belajar atau menuntut ilmu adalah upaya terus menerus agar kita memahami hidup ini, agar kita menyadari bahwa kita sebagai mahkluk yang sedang dan akan menuju sang Maha Pencipta,

Sehingga Sekolah, orang tua dan seluruh pelanggan pendidikan hendaknya menyiapkan diri untuk membangun kontrak social baru, Kontrak social baru yang dimaksud adalah membangun peserta didik agar memiliki kompetensi kolaborasi, solidaritas serta tanggung jawab dan keterkaitan kolektif, menopang hak asasi manusia, inklusi serta kesetaraan.

Hasil pendidikan harus memberikan kehidupan yang damai, adil, dan berkelanjutan. Pendidikan bukan malah menghasilkan manusia yang saling menumpahkan darah seperti yang dilakukan Negara adi daya dengan menyerang dan menjajah Negara lain. 

Pendidikan bukan malah menghasilkan manusia serakah dengan mengeksplorasi dan menguasai sumber daya alam serta memonopoli pasar agar dirinya kaya. 

Pendidikan bukan mengajarkan mengangkat diri lebih maju dan menjatuhkan orang lain. Kontrak sosial baru untuk pendidikan bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa kita merupakan bagian dari warga dunia, bahwa manusia adalah memiliki potensi dan kecerdasan yang beragam antara satu dengan lainnya sehingga dapat saling mengisi dan saling membutuhkan.

Kontrak sosial baru adalah mengembangkan empati, welas asih, solidaritas dengan orang lain dan alam, agar kehidupan berkeadilan dan berkelanjutan. Sebagaimana yang dikatakan al Qur’an bahwa sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang taqwa (49:13). Bukan orang yang banyak harta, bukan orang rupawan, bukan pula karena berkuasa. Orang taqwa dapat dimaknai orang yang memakmurkan dunia ini.

Hidup di dunia jika diibaratkan perjalanan kita di jalan raya maka hindari tabrakan fokuslah pada tujuan. Walaupun mungkin ada yang menghalangi tujuan kita pandai-pandailah mengatur rem dan gas, mungkin bila perlu berhenti sementara atau menepi agar kita tetap sampai pada tujuan

Jikapun ada yang menjegal dan menghambat perjalanan kita pertimbangkan dengan matang, cermat dan rasional apa yang harus kita lakukan. Itulah fungsinya pendidikan. Orang terdidik adalah orang yang selamat dunia dan akherat.

Orang terdidik adalah orang yang mencinta bukan orang yang ingin dicinta, orang terdidik adalah orang yang dengan pengetahuannya dapat mentransformasikan dirinya, lingkungannya menjadi lebih baik, orang terdidik adalah orang yang damai dan bahagia. Semoga Kita Menjadi Manusia Terdidik,Aamiin.(A.Budiman)

Posting Komentar untuk "Pendidikan Bukan Untuk Berkompetisi Tapi Berkolaborasi"