Mencari "Wahyu Kamulyan" KUD Minatani

Oleh : W. Masykar. 

Wahyu Kamulyan, sebuah cerita lakon yang rupanya menjadi pilihan Pengurus KUD Minatani Brondong Lamongan saat menghelat pagelaran wayang pada Sabtu malam (29/7). 

Wahyu Kamulyan menceritakan kisah Pandawa Lima yang mencari , wahyu untuk bekal hidup dan anak turunannya agar menjadi orang yang mulia disisi sang pencipta.

Wahyu Kamulyan berlatar belakang cerita suatu kerajaan yang sedang mengalami krisis kepemimpinan. 

Krisis kepemimpinan itu lebih disebabkan karena ketidak pahaman mengenai syarat mutlak menjadi seorang pemimpin. 

Mengapa cerita Lakon Wahyu Kamulyan, menjadi pilihan pada pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan oleh KUD Minatani? 

Adakah memang lakon tersebut adalah sebuah gambaran saat ini, dimana kepercayaan Pengurus sudah mulai luntur dimata anggotanya, sehingga butuh semacam penyegaran (refresh) untuk bisa menemukan sosok sosok Pengurus yang benar benar amanah, acceptable, kredible, akuntable, luwes,  adaptif dan visioner? 

Atau bisa jadi Pengurus yang saat ini menjabat merasa perlu meletakkan fondasi untuk mengokohkan bangunan Koperasi ke depan? Entahlah! 

Sehingga ke depan, siapapun yang duduk sebagai pimpinan (Pengurus) di Koperasi itu, haruslah sosok yang benar benar memiliki kemampuan lebih, bukan sekadar kemampuan managerial tapi juga leadership. 

Kesadaran akan pentingnya pemimpin yang setidaknya memiliki kemampuan managerial dan leadership itulah, yang layak dibangkitkan sehingga saat pemilihan tidak asal memilih, prinsip like and dislike yang selama ini kerap menjadi pijakan pertama haruslah bisa dirubah dan lebih mengedepankan kemampuan (kualitas)dan kredibilitas menjadi standart utama. 

Pentingnya masukan dari berbagai pihak. Atau dalam bahasa lain, dipahami sebagai kritik. Seperti halnya, lakon Wahyu Kamulyan, sosok punakawan Petruk menempati posisi strategis pada cerita ini, memiliki makna penting. 

Maka, kritik jangan dipahami sebagai ketidaksukaan dari yang menyampaikan kritik. Kritik bahkan bisa menjadi acuan dan pembelajaran penting untuk melakukan evaluasi atas kebijakan dan keputusan apapun. 

Pada cerita Wahyu Kamulyan, Petruk melakukan kritik pedas kepada pemerintahan yang sah, (atau bisa jadi petruk adalah representasi dari Anggota Koperasi yang melancarkan kritik pada lembaga Koperasi (Minatani) akan pentingnya pemimpin atau pengurus Koperasi kedepan yang memiliki visi misi dan mampu membawah lembaga tersebut mencapai kemajuan sesuai yang diharapkan anggota, memberi perubahan mencapai kesejahteraan anggota. 

Umumnya pemimpin atau pada tulisan ini dibatasi Pengurus Koperasi Minatani jangan hanya mengumbar emosi dan nafsu pribadi.

Tidak memperhatikan kepentingan anggota, tapi hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompoknya. 

Pada perjalanan cerita tersebut, Petruk dirasuki Dewa Ruci untuk menerjemahkan Hasta Brata, yakni, delapan (8) nilai kepimpinan. 

Pertama, Watak Surya atau matahari dimana memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan sebagai gambaran keadilan. 

Kedua, Watak Candra atau Bulan diteladani memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. 

Ketiga, Watak Kartika atau Bintang diteladani memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. 

Ke empat, Watak Angkasa yaitu langit diteladani ke luasan tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. 

Kelima Watak Maruta atau Angin diteladani selalu ada di mana-mana tanpa membedakan tempat dan selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya.

Ke enam, Watak Samudra yaitu Laut atau air yakni seorang yang memiliki derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya. 

Ke tujuh, Watak Dahana atau Api diteladani Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

Ke delapan Watak Bumi yaitu tanah diteladani mempunyai sifat kuat dan bermurah hati.

Kerinduan masyarakat akan hadirnya seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat kemulyaan akhirnya terobati, dengan hadirnya Bima.

Bima mampu mewujudkan impian nya untuk dapat meraih perbaikan kesejahteraan yang lebih baik, dimana hal itu tergambar pada sifat-sifat kemulyaan ( Kepahlawanan, Kejuangan, Senasib Seperjuangan dan Merakyat, yang dimiliki tokoh Bima. 

Lantas, siapakah diantara lima orang pengurus Koperasi yang bisa digambarkan seperti sosok Bima? Bisa jadi Ketua, wakil ketua. Sekretaris atau wakil Sekretaris atau Bendaharanya. 

Karena usia misalnya, tertua tidak menjadi jaminan, seperti halnya Pandawa. 

Lima tokoh anak Pandu seorang raja Hastinapura ini, Bima yang bukan saudara tertua justru menjadi sosok penting dengan sifat sifat Kamulyan nya. 

Yang termuda pun belum tentu mampu memiliki sifat Kamulyan. Seperti halnya lima tokoh Pandawa; Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. 

Bima, bukan yang tertua, juga tidak yang paling muda. Bisa jadi, karena pagelaran wayang kulit dapat memberi ruang renungan bagi masyarakat sekaligus menanamkan kecintaan budaya. 

Sehingga Pengurus KUD Minatani merasa butuh ruang untuk melakukan evaluasi dengan cara menggelar pertunjukan wayang. A

palagi, wayang bukan saja sebuah tontonan, tapi sekaligus tuntunan. Wayang memiliki cerita penuh filosofi  dari watak karakter tokoh wayang yang mencerminkan kepribadian manusia secara utuh.(*) 

Posting Komentar untuk "Mencari "Wahyu Kamulyan" KUD Minatani"