Tujuh anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, akan meningkatkan produksi sebesar 188.000 barel per hari. // Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Kapolri: Pola Terorisme Berubah, Dari Bom Bunuh Diri ke Perang Kota


JAKARTA (wartamerdeka) - Polri menengarai adanya perubahan pola aksi terorisme di Indonesia. Aksi terorisme yang biasanya dilakukan dengan bom bunuh diri kini berubah menjadi pembunuhan langsung terhadap target dengan menggunakan senjata api.



"Dari rangkaian perencanaan stratgeis yang mereka lakukan, ini bukan cuma bunuh diri, merekrut orang, tapi mereka melakuakan assasination terhadap siapa saja yang nyawanya sah untuk diambil, mereka melakukan gerilya kota," kata Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (24/9/2010).

Menurut BHD, penyerangan teroris dengan pola baru itu sudah terlihat dari kasus penyerangan teroris terhadap kantor badan PBB, UNICEF, di Aceh, beberapa waktu lalu. Saat itu, terjadi kontak senjata. Beruntung pelaku dapat dilumpuhkan.

Kasus penyerbuan teroris yang terakhir, tentu saja terhadap Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Belasan pelaku yang datang ke Polsek tersebut pada diri hari langsung menembakkan peluru panas secara membabi buta. 3 Personel kepolisian tewas dalam kejadian tersebut.

"Mereka siap mati dan menganggap mati syahid akan masuk surga. Mereka juga menganggap kita ini semua thaghut, kaum kafir. Menurut mereka, kalau ditangkap, tidak bisa gratis. Artinya mereka melakukan perlawanan," kata BHD.

BHD menjelaskan, kelompok teroris sangat mudah beradaptasi di tengah-tengah masyarakat. Mereka memiliki kartu identitas dan sangat pintar untuk membuat orang lain percaya.

Para teroris tersebut, lanjutnya, umumnya menguasai teknis penggunaan senjata api dan paham tentang strategi peperengan. Mereka pernah mendapat pelatihan di pakistan, Afghanistan, Filipina atau di dalam negeri seperti Poso dan Maluku.

"Kita paham teroris ada di mana-mana. Tapi kita tidak boleh kalah. Saya sudah perintahkan seluruh Polda untuk menyiapkan kegiatan penanggulangan terhadap kelompok-kelompok ini," kata pria berkacamata ini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama