Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Pembebasan Abubakar Ba'asyir, Kemanusiaan atau Elektoral ?


Penulis: Herlina Butar-butar

Sejak menjadi gubernur DKI dulu, banyak hal kontroversial yang telah dilakukan oleh Jokowi. Tiba-tiba pagi-pagi buta sidak ke kelurahan Cempaka Putih, merombak seluruh susunan pejabat dinas, memindahkan lurah, camat bahkan ada pejabat yang tadinya duduk di eselon tinggi tiba-tiba harus menjadi staf. Bahkan, banyak diantara mereka yang mendekam di penjara. That's so incredible!!!
Tindakan ini jelas membutuhkan keberanian yang besar mengingat resikonya.

Puluhan tahun, Pemda DKI menjadi tempat kongkow para makelar proyek bernilai besar-besar.  Para pejabat DKI yang memegang posisi "basah" tentu memiliki uang banyak, punya backing kuat, dan kebanyakan petantang petenteng diam-diam bawa senjata. Pemda DKI jaman dulu adalah sarang koruptor kronis.

Bisa dibayangkan, para pejabat yang bisa pagi-pagi ngeluyur dengan para kontraktor, lalu siang hanya datang untuk absen, sebentar kemudian kabur sebelum menjelang sore dengan alasan rapat. Saat Jokowi menjadi gubernur, mereka harus menerima kenyataan pahit, diturunkan menjadi staf biasa, bahkan mendekam di penjara. Betapa bak puting beliung, berkecamuknya perasaan para pejabat DKI waktu itu. Menjadi hal mustahil untuk dapat membongkar sistem korupsi yang telah mengakar di sana.

Dan Jokowi, manusia kurus dari Solo ini harus merombak semuanya sendirian. Bersama Ahok tentunya. Kini, sejak menjadi gubernur DKI, hingga kini menjadi Presiden, segala sepak terjang Jokowi telah menjadi catatan betapa beraninya manusia satu ini.

Hingga hari ini, publik belum bisa menerka-nerka, apa tujuan Jokowi membebaskan Abu Bakar Baasyir, selain alasan kemanusiaan.

Menjadi catatan, bahwa ada manusia-manusia kecil yang menjadi korban bom akibat buah pikiran ABB. Manusia-manusia kecil ini masih memiliki masa depan panjang. Mereka tentu memerlukan perhatian negara, agar segala akibat yang telah diterimanya tidak menjadi penghalangnya meraih masa depan mengisi hidup di negeri ini.

Syukur-syukur bila ABB bisa diajak mengunjungi korban-korban bom ini, agar melunakkan hatinya sebagai manusia.

Perbuatan salah selalu memiliki implikasi beban. Selalu ada kata maaf, bila kita memintanya. Karena maaf, tidak pernah datang sendiri. Maaf harus datang dan mendatangi untuk melepaskan beban itu.

Salam Waras!!!

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama