Tujuh anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, akan meningkatkan produksi sebesar 188.000 barel per hari. // Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Tanggul Sungai Cikawung Jebol, Membanjiri Dua Kecamatan


CILACAP (wartamerdeka.info) - Tanggul Sungai Cikawung, membanjiri beberapa desa di dua kecamatan di wilayah Cilacap bagian barat. Di Kecamatan Cimanggu menggenangi perkebunan karet dan area persawahan milik warga tepatnya di Dusun Karangtengah Kidul Desa Karangreja. Di wilayah Kecamatan Majenang, desa yang terkena banjir diantaranya Desa Padangsari, Mulyasari, Mulyadadi dan Desa Pahonjean.

Terkait kejadian tersebut, Babinsa Koramil 14/Cimanggu Serka Sudarto bersama Perangkat Desa dan Dinas Pengairan mengecek 2 (dua) lokasi tanggul jebol Sungai Cikawung yaitu masuk ke perkebunan karet dan area persawahan milik warga di Dusun Karangtengah Kidul Desa Karangreja Kecamatan Cimanggu, Rabu (18/11/2020).

Jebolnya tanggul Sungai Cikawung disebabkan hujan deras yang turun sekitar dua jam lebih sehingga air meluap dan menjebol tanggul di dua lokasi dimana salah satunya merendam puluhan hektar sawah milik petani. 

Sedangkan satu lokasi lainnya, tanggul setinggi 5 meter dari dasar sungai jebol sepanjang  kurang lebih 100 meter dan menggenangi perkebunan karet dan persawahan.  


Dalam pantauan Babinsa Koramil 14 Cimanggu di lokasi tanggul jebol menuturkan, ada beberapa penyebab tanggul sering jebol di dua titik tanggul Sungai Cikawung yaitu perbandingan debit air dan luasan sungai tidak sebanding. 

"Selain itu, sungai makin menyempit dikarenakan tidak di normalisasi dari endapan tanahnya," tutur Serka Sudarto.

Untuk saat ini air menggenangi perkebunan dan persawahan milik warga kurang lebih seluas 140 hektar dan apabila tidak ada penanganan lebih lanjut, bisa mengancam pemukiman warga di Dusun Karangtengah Kidul Desa Karangreja. 

"Hal yang dibutuhkan saat ini yaitu karung kurang lebih 5000 lembar. Karung karung ini akan diisi tanah untuk membuat tanggul sementara atau penanganan darurat," jelasnya.

Selaku Babinsa, Serka Sudarto menghimbau kepada warga masyarakat untuk selalu waspada terhadap kemungkinan tanggung jebol.(gus)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama