Jejak "Senja Hari" Di Kota Batu

Batu, wartamerdeka.info, "Dunia seni merupakan pengejawantahan dari imajinasi. Dan inilah yang tak memiliki batas karena imajinasi bisa melampaui semua ruang dan waktu yang pernah dibuat manusia. Dalam dunia senirupa seorang perupa bisa mengembangkan imajinasi sebebas-bebasnya melampaui batas nalar yang dimiliki. 

Dunia seni agak mirip dengan dunia yang saya geluti, dunia ilmu pengetahuan. Itu dikatakan Dr. Riwanto Tirtosudarmo seorang peneliti sosial saat kegiatan Pameran Seni Rupa bertajuk Jejak Seni Rupa "Senja Hari" di Gallery Raos kota Batu, Minggu (26/11/2023).

Sebagai seorang peneliti sosial, lanjut Riwanto, kebiasaan keluar masuk berbagai komunitas adalah bagian dari pekerjaaan sehari hari yang dia jalani. Karena bergaul dengan banyak komunitas atau kelompok masyarakat dengan profesi dan kebiasaan masing-masing, Riwanto akan semakin mampu berusaha memahami siapa dan bagaimana mereka bertingkah laku dalam kesehariannya.

Dunia seni juga ada yang namanya komunitas seni. Komunitas seni memiliki ikatan yang  lebih longgar dibandingkan misalnya, dengan komunitas adat atau komunitas Petani Tembakau. 

"Sebagai contoh, komunitas seni lebih longgar karena para seniman adalah orang-orang  yang bekerja dalam dunianya  masing-masing yang sangat independen, bahkan ketika mengembangkan imajinasi dan kreatifitas sebebas-bebasnya," ungkap dia. Termasuk dalam dunia ilmu pengetahuan pun tidak ada batas yang bisa membuat sekat, bagaimana seorang ilmuwan bekerja. Kebebasan akademik yang dimiliki seorang ilmuwan melekat dalam tanggungjawab-nya, ketika menggunakan kaidah-kaidah ilmiah yang lain. 

Pada kegiatan pameran dengan tajuk jejak seni rupa "Senja Hari", bukan hanya karya Seni berupa Seni lukis, tapi juga Seni pahat, seperti Patung. Sejumlah Seniman yang turut ambil bagian menampilkan karyanya masing-masing. 

Mereka adalah Anthony wibowo, Fenny Rochbeind, Heri Poer, Jonnie Kerman dan Tri Iswahyudi dan Yosoh Muntoha. Mereka adalah Seniman / Perupa yang bermukim di Malang dan Batu yang menjadi rumah tempat mereka berkarya.

"Pengetahuan saya sangat terbatas tentang dunia seni. Malang dan Batu ternyata sangat luas dan beragam jenis-nya selain dunia seni rupa yang bisa dikatakan merupakan ekspresi seni kontemporer ada berbagai ragam seni moderen yang lain, seperti film dan musik," kata Yoso Muntoha. 

Ekspresi seni yang lain, lanjut dia adalah yang bisa digolongkan sebagai Seni tradisional, seperti seni tari, wayang dan  berbagai jenis seni tradisional lainnya, dengan menampakkan ciri khas Malangan. Sebut saja, seperti Bantengan dan Topeng Malangan.

Kesenian baik yang modern maupun yang tradisional selalu memiliki akar sejarahnya masing-masing kesenian tradisi dapat dilacak akar sejarahnya jauh ke masa silam ketika jawa timur menjadi pusat dari kerajaan-kerajaan hindu dan budha. Kemudian, masuknya Islam dan kemudian peradaban barat memperkaya berbagai ekspresi kesenian yang ada di masyarakat.

"Saya menduga, senirupa modern, seperti lukis dan patung seperti yang ditampilkan dalam pameran ini bisa dilacak akar  sejarahnya pada masa kolonial belanda. Sejauh yang saya tahu kota Malang dan sekitarnya adalah sebuah wilayah yang cukup kental mengalami pengaruh peradaban barat terutama yang dibawa Belanda," pungkasnya. (Hari)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama