Puasa Tapi FYP (12)

Oleh: Kamaruddin Hasan

“Puasa kuat?” tanya seorang mahasiswa saat bertemu menjelang magrib.
“Kuat. Yang lemah itu sinyal Wi-Fi Bro,” jawab kawannya. 
Lalu mereka tertawa berjamaah. Tapi di situlah potret kecil Ramadan kita hari ini: perut lapar, kuota hampir habis, dan “timeline” lebih ramai daripada saf tarawih malam pertama.

Ramadan selalu identik dengan lapar. Lapar itu jujur. Ia tidak bisa berpura-pura. Jam dua siang, perut berbunyi seperti toa masjid yang kehabisan baterai. Jam empat, tenggorokan terasa seperti gurun yang lupa musim hujan. Itu asli. Autentik. Tanpa filter.

Tetapi kini ada lapar jenis baru: lapar akan like. 
“Posting takjilmu sudah berapa like tanya seorang remaja putri kepada temannya”
“Belum tahu. Belum buka. Masih menahan diri,” jawab  temannya sok alim. Padahal lima menit kemudian mungkin buka juga.

Di sinilah Ramadan memasuki babak baru. Kita menahan nasi, tetapi tidak menahan notifikasi. Kita sabar menunggu azan magrib, tetapi tidak sabar menunggu angka hati merah bertambah. Seolah-olah pahala belum terasa sah jika belum dikonfirmasi warganet.

Fenomena ini menarik jika dilihat dari kacamata psikologi sosial. Puasa melatih delayed gratification kemampuan menunda kenikmatan demi tujuan yang lebih tinggi. Namun media sosial menawarkan instant gratification kepuasan instan dalam hitungan detik. Maka terjadilah tarik-menarik batin: antara spiritualitas dan statistik.

Ramadan seharusnya menjadi bulan sepi yang khusyuk. Tetapi sering kali ia berubah menjadi bulan yang riuh. Bukber bukan lagi sekadar silaturahmi, melainkan sesi foto dengan komposisi artistik. Ada yang lebih sibuk mencari sudut pencahayaan terbaik untuk memotret kurma daripada merenungkan makna kesederhanaan kurma itu sendiri.

“Dek jangan dimakan dulu. Difoto dulu,” kata seorang ibu kepada anaknya di sebuah restoran”

Anaknya menatap takjil dengan wajah pasrah. Sepertinya ia sedang belajar satu pelajaran penting: di era digital, bahkan rasa lapar pun harus antre demi estetika.

Saya tidak sedang anti-media sosial. Dunia maya bisa menjadi ruang dakwah yang efektif, tempat berbagi inspirasi, dan medium menyebarkan kebaikan. Banyak konten Ramadan yang mencerahkan, menguatkan, dan menggerakkan empati sosial. Namun persoalannya bukan pada medianya. Persoalannya ada pada niat dan orientasi.

Kadang kita tidak sadar, ibadah berubah menjadi pertunjukan kecil-kecilan. Tarawih diunggah, tadarus disiarkan, sedekah dipamerkan. Semua sah-sah saja. Tetapi di sela-sela itu, ada bisikan halus: “Semoga banyak yang lihat.”

Pertanyaannya sederhana, meski jawabannya tidak selalu nyaman: jika tidak ada yang melihat, masihkah kita melakukannya dengan semangat yang sama?

Ramadan mengajarkan keikhlasan sebuah nilai yang justru tidak menyukai sorotan. Keikhlasan tumbuh di ruang sunyi. Ia tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia bahkan tidak memerlukan tanda suka. Ia cukup dengan keyakinan bahwa Yang Mahamelihat tidak pernah absen.

“Jadi harus puasa media sosial juga, Prof?” tanya seorang mahasiswa dalam sebuah diskusi santai.
“Saya tidak bilang begitu,” jawab saya. “Tapi mungkin kita perlu diet validasi.”

Diet validasi menarik, bukan? Kita tidak berhenti mengunggah, tetapi belajar tidak menggantungkan harga diri pada respons publik. Kita tetap berbagi, tetapi tidak menjadikan angka sebagai ukuran nilai diri.

Lapar mengajarkan empati. Ketika perut kosong, kita lebih mudah memahami mereka yang hidup dalam kekurangan. Namun jika pikiran terlalu penuh oleh perbandingan sosial siapa yang bukbernya paling mewah, siapa yang masjidnya paling ramai empati bisa berubah menjadi kompetisi simbolik.

Ramadan mestinya merendahkan ego. Tetapi like sering kali meninggikannya perlahan. Tanpa sadar.

Mungkin tahun ini kita perlu satu latihan tambahan: menahan diri untuk tidak selalu tampil. Sesekali, biarkan ibadah kita tidak terdokumentasi. Biarkan doa-doa kita hanya terdengar oleh langit. Biarkan tangis di sepertiga malam tidak diketahui siapa pun selain diri dan Tuhan.

Karena pada akhirnya, yang menentukan bukanlah seberapa banyak orang menyukai kita, tetapi seberapa tulus kita menyukai kebaikan itu sendiri.

Antara lapar dan like. Ramadan menguji kita pada level yang lebih dalam. Bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan hasrat untuk selalu diakui. Dan mungkin, justru di saat kita berhenti mengejar angka-angka di layar itulah kita menemukan angka yang lebih penting: kualitas diri yang bertumbuh, empati yang menguat, dan hati yang lebih lapang.

“Puasa kuat?” tanya kawan saya lagi saat azan magrib berkumandang.
“Kuat,” jawab saya. “Semoga yang lemah cuma iman, bukan sinyal.”
Kami tertawa. Lalu berbuka. Tanpa foto.

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama