// Perusahaan satelit AS Planet Labs mengumumkan pemblokiran siaran gambar perang di Iran, atas permintaan pemerintah AS. // Kapal yang Terkait dengan Jepang Melewati Selat Hormuz // Iran telah menghancurkan satu jet F-15 dan menargetkan pesawat A-10 AS yang jatuh ke Teluk. // Pasar saham UEA di Dubai dan Abu Dhabi telah kehilangan sekitar $120 miliar sejak perang AS-Israel terhadap Iran. // Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Amerika Serikat sedang merencanakan serangan darat meskipun dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri perang. //

Berita Foto

Wisata

Profil: Anda AH

Harga minyak tembus $116 per barel saat Iran menuduh AS bersiap melakukan invasi


Harga minyak mentah terus naik seiring dunia menghadapi krisis energi terbesar dalam beberapa dekade. Harganya telah melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua minggu di tengah eskalasi di berbagai front perang AS-Israel melawan Iran.

Lanjut...

WMChannel


 

Kebebasan Berbicara di AS Dipertanyakan, Setelah Mencabut Ijin Tinggal Keluarga Qassem Soleimani

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, kanan, adalah salah satu pejabat tinggi dalam pemerintahan Presiden Donald Trump [File: Nathan Howard/Reuters]

JAKARTA (wartamerdeka.info) - Menteri Luar Negeri AS,  Marco Rubio, menuduh Hamideh Soleimani Afshar sebagai 'pendukung vokal' Iran dan telah mencabut izin tinggal tetap keponakan Qassem Soleimani di AS.

Amerika Serikat telah mencabut izin tinggal tetap dua wanita yang menurut mereka memiliki hubungan keluarga dengan Qassem Soleimani, mendiang mayor jenderal yang memimpin Pasukan Quds Iran, cabang luar negeri Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dari tahun 1998 hingga pembunuhannya pada tahun 2020.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa keponakan Soleimani, Hamideh Soleimani Afshar, dan putrinya ditangkap pada Jumat malam.

Keduanya saat ini ditahan oleh Imigrasi dan Bea Cukai (ICE), sementara AS berupaya agar mereka meninggalkan negara tersebut.

Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang batasan hak kebebasan berbicara di AS dan sejauh mana anggota keluarga harus dihukum karena hubungan mereka.

Mengutip laporan media dan unggahan media sosial, Departemen Luar Negeri AS menggambarkan Soleimani Afshar sebagai “pendukung vokal rezim totaliter dan teroris di Iran”. Ditambahkan bahwa ucapan seperti itu tidak akan ditoleransi di bawah Presiden AS Donald Trump.

“Pemerintahan Trump tidak akan membiarkan negara kita menjadi rumah bagi warga negara asing yang mendukung rezim teroris anti-Amerika,” kata pernyataan itu.

Namun media Iran mengutip putri Soleimani, Zeinab Soleimani, yang membantah bahwa kedua wanita yang ditangkap memiliki hubungan apa pun dengan mendiang pemimpin Pasukan Quds tersebut.

“Individu yang ditangkap di Amerika Serikat tidak memiliki hubungan apa pun dengan martir Soleimani, dan klaim yang dibuat oleh Departemen Luar Negeri AS adalah salah,” kata Zeinab dalam sebuah pernyataan. (Aljazeera/**)

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama