![]() |
| (Foto: Tangkapan layar berita video Al Jazeera) |
JAKARTA - Sedikitnya empat orang di Provinsi Nabatieh, Lebanon Selatan atas serangan Israel meski ada gencatan senjata dan kesepahaman baru antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang, demikian laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA).
NNA menjelaskan, pembunuhan pada hari Selasa terjadi ketika serangan drone terpisah menargetkan dua kendaraan di Mayfadoun dan kendaraan ketiga juga menjadi sasaran di Desa Shoukin.
Sepanjang negosiasi yang seringkali rapuh antara Iran dan AS, para pejabat Iran berulang kali mengatakan bahwa setiap pengaturan gencatan senjata harus mencakup penghentian serangan Israel terhadap Lebanon.
Meskipun teks akhir nota kesepahaman belum dipublikasikan, perdana menteri Pakistan yang bertindak sebagai salah satu mediator dalam konflik tersebut, mengatakan pada hari Senin bahwa perjanjian tersebut membayangkan penghentian segera operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada Selasa bahwa pendudukan Israel yang berkelanjutan di Lebanon Selatan melanggar kesepakatan tersebut, menambahkan bahwa tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki selama perang ini, perang belum sepenuhnya berakhir.
Komando Militer Gabungan Tertinggi Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, mengatakan Israel harus mengharapkan tanggapan keras dari angkatan bersenjata Iran jika tidak menghentikan serangannya di Lebanon Selatan.
Dalam percakapan telepon dengan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyerukan agar AS memaksa Israel untuk mengakhiri perangnya di Lebanon, menghentikan penghancuran rumah dan menarik diri dari wilayah Lebanon yang diduduki.
Setelah pengumuman kesepakatan antara AS dan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel akan terus menduduki Lebanon Selatan.
Kantor Berita Reuters melaporkan, kelompok Lebanon, Hizbullah, mengatakan telah menerima jaminan dari Iran bahwa Teheran akan menuntut penarikan pasukan Israel dari Lebanon dalam fase pembicaraan selanjutnya dengan AS.
Sementara itu, perasaan pesimisme penduduk Nabatieh saat kembali untuk memeriksa properti mereka. “Ini adalah konflik puluhan tahun dengan Israel, musuh yang tidak dapat dipercaya dan kita tidak akan pernah merasa aman,” kata Mohammed Nasser kepada Al Jazeera.
Hussein Badreddine, penduduk lainnya, mengatakan tentara Israel mencoba menduduki posisi yang pernah mereka kuasai selama pendudukan mereka di Lebanon Selatan pada tahun 1990-an, tetapi perlawanan mencegah mereka melakukannya.
Informasi yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak dimulainya kembali pertempuran pada 2 Maret lalu, setidaknya 3.826 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon dan 11.851 orang terluka.
Sumber: Al Jazeera.
