Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


Open House Lebaran di Masa Covid-19? Wassalam…


Cerpen Esai Karya: Danny PH Siagian
(Juara Harapan 2 Lomba Cerpen Esai PPWI)

Biasanya, setiap Hari Raya Lebaran, Kompleks Perumahan Menteri Widya Chandra, Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, menjadi langganan kami para insan pers untuk berlebaran. Para Menteri dan pimpinan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)/ MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) yang berumah dinas disana, selalu membuka pintu alias Open House bagi masyarakat umum, pada Lebaran hari pertama maupun hari kedua. Dapat juga diartikan sebagai Halal Bi Halal. Hal ini sudah menjadi tradisi sejak Orde Baru. (1).

Saya dan beberapa rekan jurnalis liputan DPR/MPR dari media masing-masing, biasanya selalu semangat, jika tiba Lebaran. Kita biasanya janjian dan saling info, jika hendak kesana. Sudah 5 (lima) kali Lebaran sejak tahun 2009 hingga 2017, kami selalu kesana. Tentu, ada-ada saja kenangan khusus yang kami rasakan. (2)

Kenapa kami semangat? Karena ada beberapa faktor. Pertama, biasanya kita bisa dengan rileks bersilaturahmi dengan para petinggi Negeri ini, dan para artis top. Suasananya pasti asyik dan gembira. Penuh keakraban sambil berfoto ria. Kedua, kita bisa dapat relasi baru, yang selanjutnya jadi narasumber kita. Tentu, kita harus mencari-cari selah untuk pendekatan.

Ketiga, para tamu bebas memilih makanan yang sudah pasti juga enak-enak dan beraneka macam. Bahkan kadang kita nggak kuat makan, karena ‘kampung tengah’ (2) nggak cukup menampung. Hal lain, biasanya ada souvenir dari sang Menteri maupun para Pimpinan DPR/MPR yang kita bawa pulang. Beberapa souvenir yang pernah kami dapat antara lain: buku biografi atau buku motivasi (karangan motivator top), jam meja kerja, note book, gantungan kunci, kalender meja, dan masih banyak lagi. Kadang itu disatukan dalam goody bag. Dan yang lebih surprise lagi, jika ada angpau yang sudah diamplopin, khusus untuk para jurnalis. Lengkap dengan tandatangan. Hmm…

Dalam beberapa kesempatan Lebaran, saya dan teman jurnalis dari media cetak mingguan, Donny, pernah ke rumah dinas Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, SE., MM; Wakil Ketua DPR R.I Anis Matta; rumah dinas Menteri Pendidikan Nasional (saat itu) Prof. Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu) Prof. Dr. Ir. M.Nuh; dan beberapa pejabat negara lainnya yang di kompleks tersebut. Sekali waktu juga kami kerumah para anggota DPR RI yang sudah kenal dekat, di Kompleks Perumahan Anggota DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan. Pokoknya, happy-lah.

Namun, dimasa pandemi virus Corona, yang sejak pertengahan Maret 2020 lalu sudah mulai ada larangan Pemerintah untuk menerapkan social distancing dan protokoler kesehatan, hingga dikeluarkannya aturan mengenai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), harapan Lebaran ke Kompleks Menteripun sirna sudah. (3). Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Tak ada silaturahmi dengan Menteri, tak ada calon narasumber baru, tak ada makan enak, tak ada souvenir maupun angpau. Pahit!

Jangankan Open House yang menghadirkan ratusan orang. Kumpul satu-dua keluarga saja sudah ngeri-ngeri sedap. Ibadah di rumah ibadahpun, sudah tidak diperbolehkan, demi menghindari penularan yang makin marak. Apalagi Open House yang bukan saja menghimpun para tamu. Pasukan catering, pasukan peralatan tenda, sound system, artis musik segala, juga anggotanya banyak. Padahal, Pemerintah juga sudah melarang. Bahkan menetapkan denda hingga ratusan juta rupiah bagi yang melanggar aturan PSBB.

-000-

Seminggu sebelum Lebaran, saya telpon rekan saya Donny yang biasanya kami selalu janjian kalo mau Lebaran ke Kompleks Menteri. Kami juga sudah hampir 3 (tiga) bulan nggak jumpa, akibat WFH (Work From Home).

“Halo bro… Gimana kabar” kata saya.

“Halo…Semaput put..,” kata Donny dengan suara yang sengaja dibuat parau.

Tak tahan, hingga sayapun tertawa terpingkal-pingkal.

“Sam..ma,” sahutku lagi sambil masih tertawa.

“Gimana nih Lebaran ke Kompleks Menteri? Nggak ada dong ya?,” tanyaku memancing, apakah dia mau nekad atau tidak.

“Ach…Gelaplah kawan,” katanya sambil tertawa.

Kami melanjutkan bincang bergantian dengan menceritakan keluh-kesah masing-masing. Dia ceritakan, hampir dua hari sekali keluarganya makan Indomie campur nasi untuk makan siang atau malam.

Padahal katanya itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Beli tempe yang biasanya 7.000 rupiah satu bungkus kata isterinya, melonjak hampir 100 persen. Apa-apa jadi mahal, lanjutnya lagi.

Sayapun mengungkap cerita kurang lebih sama. Padahal sebenarnya, apa yang dia bilang itu, persis juga saya alami bersama keluarga. Di rumahpun sudah begitu modelnya. Mana yang murah itu saja yang dibeli. Seputar tahu, tempe, telor, Indomie, dan kawan-kawan dekatnya.

Saya coba telpon lagi teman yang dari media online, yang sudah lama juga tak jumpa. Kami sudah sama-sama liputan di DPR RI 8 (delapan) tahun lebih.

“Halo mas Aziz. Piye kabare mas?,” kata saya.

“Wah…remuk mas Danny,” katanya lemas.

Teman saya ini biasanya manggil saya tetap mas, sekalipun saya orang Batak. Hehe… Yang lain, panggilnya Bang.

“Njok piye iki,” lanjutku.

“Wah…Ora ngertilah mas,” sahutnya lagi.

“Lebaran ke Kompleks Menteri nggak bisa dong kita ya?,” tanya saya pengen tahu komentarnya.

“Ah…Wassalam mas. Di WA aja sudah nggak respon,” katanya lirih. Dalam hati saya…bener juga Wassalam… (4). Mungkin dia sudah coba komunikasi dengan beberapa pejabat yang dia kenal dekat. Tapi sepertinya nihil.

Eh…nggak lama setelah telpon Aziz, ada WA dari teman jurnalis DPR juga. Almain namanya. Dia bermaksud mau pinjam uang 200.000 rupiah. Wadduh…miris saya. Saya nggak mampu menjawabnya langsung. Karena selama ini memang sering saya bantu pinjam, walaupun kecil-kecilan. Toh, pinjamannya juga sudah saya ikhlaskan, karena memang nggak pernah balik. 

Besoknya, baru saya balas WAnya, seraya mohon maaf.

Saya sendiri juga sudah sangat berat keuangannya. Karena sumber pemasukan nyaris tersumbat. Masih bersyukur isteri saya ada pemasukan kecil-kecilan. Yang tadinya usaha jahitannya adalah kebaya dan gaun, sekarang beralih jahit masker berdasarkan pesanan. Karena order jahitan yang biasa, sudah nggak ada lagi sejak 3 (tiga) bulan lalu. Tiga minggu terakhir ini, isteri kami dukung buka jualan online Ayam Kremes. Karena dia memang pintar masak. Ya, bergulir sih. (5)

Kendati keluarga kami Kristiani, namun setiap Hari Raya Idul Fitri, selalu ada jadwal kunjungan ke keluarga yang Muslim. Demikian juga relasi dekat yang sudah rutin kami kunjungi. Biasanya kita kunjungan di hari kedua atau ketiga Lebaran. Dalam skala kecil, itu sebenarnya sama saja Open House, seperti yang dimaksud diatas. Namun, untuk Idul Fitri tahun ini, semua itu tak ada lagi. Karena keluarga yang akan dikunjungipun belum tentu mau atau berani membuka pintu. Kita sendiri juga was-was terus.

Belakangan ini saya lihat, sudah banyak warga masyarakat yang menabrak peraturan PSBB. Jalanan di Jakarta sudah macet. Pasar, mal sudah padat. Dilarang mudik, eh…pada mudik juga. Padahal Jakarta episentrum penyebaran Covid-19 paling tinggi diseluruh Indonesia.
Bagaimana lagi jadinya situasi Jakarta, pasca mudik Lebaran? Apalagi peraturan PSBB dibuka oleh Pemerintah. Katanya, kita harus mulai membiasakan hidup berdampingan atau berdamai dengan wabah virus Corona (Covid-19). Istilahnya, New Normal.

Wah, apalagi ini? Jurus apalagi yang harus dilakukan dengan hidup berdampingan dengan virus yang mematikan itu? Sedangkan berdiam diri saja dirumah, orang yang terpapar dan meninggal, grafiknya meningkat terus. Apalagi kalau sudah sudah mulai berkumpul dalam kerumunan? Bagaimana dengan Sholat Ied? Menteri Agama juga masih menganjurkan Sholat dirumah saja.  Tapi, apakah masyarakat masih mematuhinya?
Pikiran saya kadang menerawang jauh.

Akankah kita nanti terbiasa melihat mayat bergelimpangan dipinggir jalan akibat tingkat kematian yang makin tajam? Akibat tidak mampunya lagi Rumah-rumah Sakit menampung korban Corona? Bahkan terkini, beberapa video paramedis diunggah di medsos, yang berkata “Kami Lelah. Ya Terserah”. Wadduh…Cilaka!
Oh Tuhan. Hanya Engkaulah yang paling mengetahui skenario kehidupan kami masyarakat Indonesia. Bukalah pintu hati dan pikiran kami, agar kami dapat mengerti, apa yang seharusnya kami lakukan. Sesuai dengan kehendak-Mu. Amin!

Jakarta, 22 Mei 2020


Foot note:

  1. Tradisi Open House di zaman Orde Baru, di masa Pemerintahan Presiden R.I Kedua, Soeharto, selama 32 tahun (berakhir pada bulan Mei 1998), sudah ada Open House yang membuka pintu bagi masyarakat umum, untuk ajang silaturahmi dan bermaaf-maafan, antara Pejabat Negara dengan masyarakat umum.
  2. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19, merupakan Peraturan Pemerintah (PP) No. 21/2020–ditetapkan tanggal 31 Maret 2020.
  3. ‘kampung tengah’ istilah lain dari penamaan perut.
  4. Wassalam biasanya kita istilahkan sebagai sesuatu yang berakhir atau selesai.
  5. Jualan online Ayam Kremes, dimaksudkan menawarkan produk lewat media daring. Memproduksi jika ada pesanan. Tidak menyiapkan stok, dan tidak buka counter atau lapak. Sedangkan Ayam Kremes itu digoreng garing dan ditaburi tepung tapioka, digoreng bersama ayamnya.              

(Penulis: Danny PH Siagian, adalah jurnalis wartamerdeka.info, yang sejak tahun 2008 ditugaskan di liputan DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, hingga tahun 2018. Penulis juga Dosen PTS di Jakarta.)

Posting Komentar untuk "Open House Lebaran di Masa Covid-19? Wassalam…"