Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

 


 


Phobia Masyarakat Pasca Pandemi

Oleh: Ronny Gunawan

(Dosen Prodi BK FKIP UKI dan Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang)

Tidak terasa sudah hampir dua tahun kita hidup ditengah-tengah Pandemi yang dapat merubah semua tatanan kehidupan masyarakat dengan cepat, baik dari sisi sosial, ekonomi, bahkan kependidikan. Berubahnya tatanan kehidupan masyarakat membawa dampak pada sisi psikologis setiap individu. 

Masyarakat yang semula dapat berkumpul, belajar secara klasikal di sekolah, bekerja di kantor, dan beribadah bersama, namun berubah menjadi bekerja, belajar, dan beribadah secara Daring. Konsep perubahan yang cepat ini membawa sisi positif maupun negatif. 

Dari sisi positif teknologi berkembang semakin pesat khususnya dalam bidang pendidikan, di mana setiap guru, siswa, sekolah mengembangkan media pembelajaran secara daring, dengan demikian memunculkan energi untuk membangkitkan inovasi dalam pembelajaran. 

Model pembelajaran pun berubah dari klasikal menjadi daring, guru Bimbingan dan Konseling pun dapat mengembangkan konsultasi via daring bagi siswa-siswinya. Namun kita tidak boleh terlena, karena akibat pandemi ini, psikologis manusia juga mengalami perubahan, di mana pandemi merubah tatanan kehidupan manusia yang tadinya dapat bersosialisasi secara fisik, mobilitas tinggi, sekarang dibatasi dengan aktivitas dari rumah, manusia menjadi lebih individualis. Belum lagi secara psikologis kecemasan/ketakutan bahkan depresi mulai bermunculan di tengah masyarakat akibat pandemi, terutama masyarakat yang mengalami secara langsung virus covid-19 ini atau kehilangan orang-orang yang dikasihi akibat pandemi. Secara tidak disadari tingkat kecemasan tersebut masuk ke dalam alam bawah sadar manusia dan menjadi phobia. 

Phobia merupakan kecemasan atau ketakutan yang tidak semestinya ditakuti dan dilakukan secara berulang-ulang bahkan menjadi sebuah perilaku cemas, sehingga dapat mengganggu aktivitas fisik sehari-hari bahkan kesehatan individu tersebut. Phobia terjadi karena adanya kejadian yang mengganggu kejiwaan seseorang sampai terekam di dalam memori jangka panjang (long term-memory), sehingga setiap bertemu dengan hal serupa, maka individu tersebut akan cemas dan takut, contoh: ketakutan terhadap kucing, karena waktu kecil pernah digigit atau dicakar kucing, hingga menjadi trauma terhadap kucing. 

Ada dua jenis ketakutan: pertama, ketakutan normal, yakni ketakutan yang sebagaimana mestinya, misalnya ketika seseorang menghadapi tes masuk kerja, takut berjalan sendiri di tengah malam, seorang murid takut dengan gurunya yang galak; kedua, ketakutan yang tidak wajar, yakni ketakutan yang tidak sebagaimana mestinya, karena sudah terekam di memori jangka panjang dan terjadi ketika berjumpa dengan objek yang ditakuti. Hal ini akan mengganggu kehidupan sehari-hari, bahkan kesehatan individu yang mengalaminya, inilah phobia.

Di Pasca Pandemi ini meskipun kegiatan sosial masyarakat sudah mulai dibuka (dengan protokol kesehatan ketat), namun ada sejumlah individu yang masih mengalami trauma akibat pandemi. Trauma tersebut mengakibatkan individu tersebut takut keluar rumah, takut ketemu oranglain di luar rumah, menutup rumah dari orang lain, bahkan sampai menyemprotkan diinfektan ke makanan. Traumatik tersebut akhirnya menjadi phobia, karena sudah terekam di dalam memori jangka panjang dan akan terlihat dalam perilaku sehari-hari. 

Phobia tidak boleh dianggap ringan karena membawa dampak buruk bagi kesehatan mental maupun fisik. Ketika kesehatan mental seseorang terganggu, maka kesehatan fisik pun akan terganggu, apabila tidak segera ditangani akan berakibat fatal bagi individu tersebut. 

Lalu apa yang perlu dilakukan oleh individu yang mengalami phobia, khususnya pasca pandemi? Setiap individu (konseli) yang mengalami phobia memerlukan bantuan individu lain (konselor) yang dapat membantu konseli untuk keluar dari phobia tersebut, sehingga merasa nyaman. 

Phobia pasca pandemi memerlukan kesigapan dari para konselor dan psikolog untuk memberikan pertolongan bagi konseli. Individu yang mengalami phobia tersebut ketika masuk dalam proses konseling akan dibimbing untuk mengatasi phobianya, sehingga individu tersebut dapat menjalani kehidupannya kembali secara normal. Lepas dari phobia merupakan sebuah proses dan pastinya memerlukan kesabaran serta keinginan konseli untuk keluar dari phobia tersebut. Peran serta Konselor dan Psikolog sangat besar pasca pandemi ini. 

Salam Sehat.

Posting Komentar untuk "Phobia Masyarakat Pasca Pandemi"