Jalan Pintas Memopulerkan Produk Indonesia Ke Dunia Lewat KTT G20

NUSA DUA (wartamerdeka.info) – Ada banyak kisah di balik gelaran Presidensi G20 Indonesia 2022. Salah satunya adalah ajang Future SME's Village yang digelar pada 10-19 November di Bali Collection, ITDC Nusa Dua. 

Kegiatan berskala internasional itu tak luput dari proses panjang segenap pihak guna kesuksesan setiap event dalam rangkaian G20. Itu adalah wujud nyata gotong royong lintas profesi. Ajang KTT G20 diyakini bisa menjadi jalan pintas produk lokal  Indonesia menjadi terkenal.

“Bali Collection sejak sebelum  pandemi itu tidak bagus kondisinya. Area seluas 8 hektar itu kosong. Hanya ada Sogo dan Starbuck dalam 3-5 tahun terakhir. Itu permintaan Pak Jokowi, nanti G20 jangan sampai tempat ini sepi,” ujar Direktur utama SMESCO Leonard Theosabrata kepada Tim Komunikasi dan Media G20 di sela gelaran KTT.

Future SME Village memang dijadikan pusat berkumpul para delegasi G20 agar bisa berinteraksi di sela-sela penyelenggaraan KTT G20, sembari menikmati ragam produk nusantara. Para delegasi dapat menikmati Future Mobility, Future Craft, Future Fashion, Future Food, dan Future Wellness, serta berbagai pertunjukan seni tradisional dan kontemporer serta arsitektur berbahan bambu dalam acara ini.

Bukan pekerjaan mudah untuk membangun kembali tempat yang tak lagi diminati pengunjung. Yang terpikirkan oleh dirinya saat itu adalah bagaimana menciptakan keramaian di area Bali Collection. Berbekal pengalaman panjang membuat event, ia mencetuskan ide untuk membuat pop up event Pasar Nusa Dua. 

Sejumlah petinggi diajak bicara oleh Leo untuk menghidupkan Pasar Nusa Dua dengan anggaran minim.  “Awalnya tidak masuk agenda side event. Kami bicara hampir setahun lalu. Saya bikin rencananya dengan harapan bisa mendatangkan traffic yang akan memberikan kepercayaan terhadap calon tenant yang tadinya enggak mau buka, jadi buka,” kata Leonard.

Langkah itu terbukti membawa hasil. Pengunjung selalu membludak di acara yang digelar selama tiga hari itu.

Pasar Nusa Dua pertama diadakan pada Mei 2022 dengan 33 tenant dan berhasil mendatangkan 3.500 pengunjung. Lalu digelar Pasar Nusa kedua yang digelar akhir September lalu selama lima hari mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung.

Tercatat jumlah pengunjung mencapai 10.000 orang. Bahkan ada satu UMKM produsen batik binaan Bank Indonesia yang memiliki omset Rp170 juta sehari. Ini menunjukkan potensi pasar dan peluang yang ada. 

“Saya bilang ke Presoden, intinya nanti G20 ini kelihatan seperti mal yang sudah buka 80 persen. Dan saya memenuhi janji itu. Kalau saya dikasih budget lebih pasti bisa lebih bagus lagi,” ujarnya. 

Ia menjelaskan Future MSE Village adalah hasil kolaborasi dengan banyak stakeholders. Mulai dari kementerian, lembaga, instansi, organisasi hingga private sector. Dengan dukungan dari semua pihak, akhirnya side event yang mengedepankan kearifan lokal Indonesia ini terselenggara dengan baik. 

Menurut Leonard, salah satu tujuan acara ini adalah untuk menunjukkan kepada para delegasi G20 bahwa Indonesia memiliki berbagai  produk lokal yang tidak kalah bersaing dengan produk-produk dari mancanegara. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah Indonesia harus menunjukkan potensi dan kekayaan alam yang dimiliki kepada dunia. 

“Future SME Village bicara mengenai real sector: fashion, food, craft, mobility, sama wellness. Kenapa wellness ada? Kutus-kutus, misalnya, omsetnya Rp1,5 triliun setahun.  Real, cash, sumber dayanya ada, mempekerjakan orang, dipakai banyak orang, ada benefit kesehatan, fitofarmaka. Ada semua,” katanya.

Gelaran Future SME’s Village, terang Leonard, menjadi showcase bagi produk-produk lokal Indonesia sekaligus sebagai branding bahwa Indonesia memiliki produk yang bagus dan bisa bersaing di pasar global. Lewat ajang G20, diharapkan bisa menarik pembeli baru sehingga produk lokal bisa mendunia dan memberi kebanggaan bagi Indonesia.

Smesco Hub Timur

Selain Future SME’s Village, Leonard juga membangun Smesco Hub Timur sebagai wadah informasi produk-produk lokal khususnya bagian Indonesia timur. Kenapa Indonesia Timur? Karena selama ini potensi yang ada di bagian timur Indonesia belum begitu tergarap dibandingkan dengan bagian barat.  

Dilansir dari laman Smesco, dengan  ruangan seluas 800 m2, Smesco Hub Timur akan menjadi pusat trading dan investasi sehingga dapat menyerap produk-produk wilayah timur Indonesia untuk tujuan pasar ekspor dengan branding “Made in Bali” for the world. 

Di sini, tersedia dashboard aplikasi yang diletakkan di samping kiri pintu masuk Smesco Hub Timur. Para calon investor atau pembeli bisa melihat detail jenis-jenis produk yang tersedia berdasarkan kategori mulai dari makanan, produk herbal hingga fesyen.

“Kami juga menyediakan showcase berbagai produk lokal Indonesia, kami sediakan booth masing-masing provinsi khususnya di Indonesia Timur sehingga calon pembeli bisa melihat langsung,” terang Leo. 

Ia menjelaskan selama ini pasar ekspor produk UMKM masih didominasi oleh para pelaku usaha kecil di Indonesia bagian barat. Padahal, potensi yang dimiliki dari berbagai produk dari timur Indonesia juga memiliki kualitas yang sama bagusnya. 

Setelah gelaran G20 rampung, prototipe Future SME’s Village di kawasan Bali Collection akan dijadikan  permanen. Smesco, kata Leo, akan terus mendorong UMKM yang sudah merasakan manfaatnya membuka booth  di Nusa Dua untuk membuka toko.

“Kami sudah bicara dengan Dirut ITDC, dengan Pak Teten juga setelah ini gimana. Yuk  dijadikan  lebih permanen, lebih kuat lagi, bahkan kita mau naikin jadi premium,” terang Leo.  

Soal Presidensi G20 Indonesia 2022 Leonard mengatakan pemerintah telah melakukan yang terbaik untuk kesuksesan penyelenggaraan KTT. 

“Saya yakin pemerintah telah melakukan persiapan yang matang sehingga ajang G20 berjalan dengan baik. Kami semua memberikan yang terbaik untuk kesuksesan acara ini,” pungkasnya. (Hairul)

Posting Komentar untuk "Jalan Pintas Memopulerkan Produk Indonesia Ke Dunia Lewat KTT G20"