Penduduk Palestina di Jalur Gaza Shalat Idul Adha



Oleh Dasman Djamaluddin

Hari ini, Rabu, 22 Agustus 2018, bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam melaksanakan Idul Adha. Begitu pula warga Muslim di seluruh dunia. Ada di antaranya sudah merayakan kemarin, termasuk warga Arab Palestina di Jalur Gaza.

Seusai shalat, kita selalu berdoa agar penduduk Palestina yang bertahun-tahun hidup dalam pengungsian bisa kembali ke tanah airnya. Bangsa ini sekarang hidup di kamp pengungsian perbatasan dengan Israel di Jalur Gaza. Bahkan sudah tiga generasi, mereka hidup di sana setelah Israel mencaplok wilayah itu menjelang tahun 1948 dan memproklamirkan kemerdekaannya.

Sebelumnya wilayah yang diduduki Israel seluruhnya adalah wilayah Palestina. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membagi wilayah itu dengan tidak adil. Bagaimana mungkin wilayah yang semula milik bangsa Palestina dibagi tidak adil. 

Penduduk Yahudi memiliki prosentase lebih besar dari bangsa Arab Palestina.
Memang terjadi usaha persatuan kedua pemimpin Palestina ini, baik dari Fatah dan Hamas. Ini terjadi  setelah delegasi dua faksi Palestina itu mencapai beberapa kesepaktan dalam perundingan di Kairo, ibukota Mesir pada bulan Oktober 2017. Kesepakatan itu akan direalisasikan pada 1 Desember 2017.

Usaha persatuan itu berubah menjadi kemarahan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump karena menjelang diberlakukannya kesepakatan kedua kelompok organisasi Palestina,  Trump di awal Desember 2017 mengumumkan keputusannya untuk menjadikan Jerusalem sebagai ibukota Israel.

Memang secara langsung bersatunya kedua faksi organisasi Palestina itu adalah urusan Palestina dan kebijakan Trump adalah urusan dalam negeri negara adidaya itu. Tetapi karena sikap Trump ini bersinggungan dengan Jerusalem, maka berdampak kepada kedua organisasi Palestina yang baru saja ingin melaksanakan kesepakatan yang dicapai mereka di Mesir tersebut.

Pengumuman Trump ini membuat situasi  dunia kembali menjadi panas. Lihatlah aksi unjuk rasa di berbagai negara, juga di Indonesia. Menteri Luar Negeri Indonesia mengajukan sikap Indonesia kepada Duta Besar AS di Jakarta. Sejalan dengan sikap Indonesia yang telah disampaikan sebelumnya oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Indonesia menentang keras keputusan AS menjadikan Jerusalem sebagai ibukota Israel.

Hari ini juga, selain memperingati Idul Adha, ada hari penting yang kita tidak bisa lupakan. Tepat pada hari Kamis, 21 Agustus 1969, radio Israel dalam siaran pukul 9.30 waktu setempat, secara resmi mengumumkan suatu peristiwa yang sangat menyayat hati umat Islam, bahwa masjid al-Aqsa telah terbakar. Nyala api telah terjadi mulai kira-kira pukul 7.15, kurang dari dua jam sebelum radio itu menyiarkannya.



Waktu ini muncullah persatuan negara-negara Arab mengutuk perlakuan Israel. Setelah itu terbentuk persatuan negara Arab dan berdirilah apa yang disebut Organisasi Konferensi Islam (OKI). Juga terbentuknya setelah Perang Enam Hari antara pasukan negara-negara Arab dengan Israel. Perang yang melelahkan dan kekalahan di pihak negara-negara Arab menyebabkan Masjid Al-Aqsa yang dibangun Nabi Daud as pada tahun 1000 Sebelum Masehi itu, yang pernah jadi alat pemersaru itu beralih ke tangan Yahudi. Ummat Islam marah, apalagi Yahudi berniat membangun Kuil Sulaiman, tempat peribadatan suci untuk ummat Yahudi.

Sayangnya pada tahun 612 Sebelum Masehi, Jerusalem jatuh ke tangan Nebukhadnezar , seorang penguasa dari Babilon. Penguasa baru ini melakukan pembersihan besar-besaran dan semua bangunan suci dimusnahkan, termasuk Kuil Sulaiman.

Bagi ummat Yahudi, kuil tersebut sangat disucikan, sehingga mereka berupaya bangun kembali. Namun tempat sebenarnya agak sulit menentukan, karena batas-batas tanahnya telah lama lenyap. Sehingga karena didorong kepada kebencian, akhirnya mereka menentukan sendiri batas-batasnya, yaitu di tempat berdirinya Masjid Al-Aqsa.

Buat ummat Islam, hal itu dianggap tidak masuk akal, karena masjid tersebut adalah tempat di mana Nabi Muhammad SAW mengawali mi'raj dan tercantum jelas dalam kitab suci Al Qur'an. Klaim ummat Yahudi ini sangat tidak masuk akal. 

Menurut saya, terbakarnya masjid, pun ada kaitan untuk membangun kembali Kuil Sulaiman oleh kelompok Yahudi. Sama halnya jika semua bangunan terbakar, akan berdiri di sana Kuil Sulaiman. Tetapi usaha kaum Yahudi ini tidak berhasil. Ada juga usaha untuk merobohkan Masjid Al Aqsa dengan menggali tanah di dekatnya, sehingga masjid ummat Islam itu roboh. Tetapi usaha ini pun cepat diketahui.

Presiden AS Donald Trump ketika berkunjung ke Jerusalem sudah tentu mendengar masalah Kuil Sulaiman dari pemuka agama Yahudi. Ini pula salah satu alasan, mengapa ia membuat pernyataan, Jerusalem sebagai ibukota Israel, agar ketika menjadi milik Israel, kelompok Yahudi leluasa membangun Kuil Sulaiman. 
Sekaligus ingin tampil beda di hadapan presiden terdahulunya yang masih ragu-ragu memutuskan, sementara keputusan menjadikan Jerusalem sebagai ibukota Israel sudah lama disetujui, hanya selalu ditunda. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama