TikTok YouTube Instagram Twitter WhatApp

Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Kembangkan Pertanian Hayati, PETIR Ngaji Tani Bersama Petani Bumiayu


BUMIAYU (wartamerdeka.info) - Persatuan Desa Tani Nusantara (Petir) terus mengembangkan kesadaran pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan dan  berkelanjutan. Dalam rangka meningkatkan pengelolaan dan produktivitas, organisasi tersebut, turun langsung menggelar Ngaji Tani bersama kelompok-kelompok tani Brebes dan Banyumas di Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah, Minggu, (29/11/2020).

Pagelaran yang berlangsung di SMK Ma’arif NU 2 Paguyangan, Brebes tersebut menghadirkan Pembina Petir  Gus Rochim Pati, Ketua Umum Petir KH. Nur Budi Hariyanto, S.Tete Marthadilaga, Sigit Setiawan, direktur produksen pupuk cair hayati Biokonversi Johny Tarigan. Hadir pula kelompok-kelompok tani dari berbagai kluster pertanian dan peternakan dan perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Brebes.


Berbagai keluh kesah disampaikan para petani, baik petani padi, kelengkeng, sayur mayur dan holtikultura, budidaya ikan lele, peternak dan petani khusus organik. Mayoritas dalam pengelelolaan pertanian dan peternakan, masih terkendala kurang memadainya kebutuhan sarana dan prasarana pertanian (saprotan) dan sarana dan prasarana produksi (saprodi).  Sedangkan untuk pertanian organik masih terbentur dengan pemasaran hasil tani.

Disamping itu, para petani juga menanyakan program kredit usaha tani (KUR) untuk meringankan beban pembiayaan pengelolaan produksi pertanian. Selama ini, mereka merasa kesulitan dan belum memahami pola program KUR yang dicanangkan pemerintah.

 ‘’Kami masih belum faham tata cara mengajukan KUR,’’ ujar Tohuro, seorang penggerak pertanian organik. ***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama