Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


 

Modern Urban Warfare


Oleh: Zeng Wei Jian 

MERASA sakti, Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Wasmad Edi Susilo gelar konser dangdutz. Ribuan orang datang. Polsek Tegal Selatan ngga berani bubarin. Gubernur Ganjar Pranowo bicara dengan Walikota; Jangan izinkan, ijab qabul aja. 

Akhirnya Wasmad Edi Susilo pasrah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Rasain loe...!! 

Situasi serupa pecah di Jakarta. Ada kerumunan di Petamburan. Beda kualitas sensitivitasnya. Gubernur Anies Baswedan disinyalir terlibat. Aktivis Sugiyanto alias SGY menyatakan "Anies tetap bisa diberhentikan". 

Polisi freak out. Semua pihak berhitung impact apabila Gubernur Anies Baswedan ditetapkan sebagai tersangka. 

Figur nasional seperti Jusuf Kalla, SBY dan Wapres Makruf Amin pluz international terrorist network diduga punya potensi turun arena. Slogan "Anies President 2024" adalah bahasa isyarat. 

Aksi demonstrasi "Bela Anies" diperkirakan akan pecah. Skenario free-rider muncul. Kelompok K@MI sedang mati-mati ular mencari momentum. 

Aksi demonstrasi dipukul mundur polisi. Pasukan siluman, terrorist, anarko sindikalis muncul & digebuk Brimob. Chaoz pecah. 

Metode chaoz mengambil bentuk "Urban Terror". Seperti kata Urban guerrilla advocate Carlos Marighella yang yakin "that the cities to have ideal conditions for insurgents". 

The city is breeding ground for international terrorist.

Panglima Hadi menjawab dengan "Urban Warfare" pluz nano technology & deployment high-quality TNI's snipers. Indikasi "Urban Terror" adalah penggunaan media-social sebagai platform propaganda, agitasi & nyebar hoax. 

Urban Terrorism mengubah konsep perang. Dari "peasant war of 20th century" menjadi "Urban war of 21st century". 

Terrorist group prefer urban warfare. Hasil dari improvisasi pengalaman Fallujah, Mosul, Allepo dan Raqqa. Mereka tau TNI ngga akan menghancurkan Jakarta dengan F-16 Fighting Falcon airstrikes dan heavy bombarment. 

Urban insurgent ingin ambil keuntungan heavy density of physical terrain dan irregularity of city landscape. 

Mereka tau combat di dalam urban area adalah type perang paling destruktif. Kota adalah complex systems of systems that support human life. Military weapons tidak akan maximal di medan tempur macam ini. Insurgent bisa blend-in dengan populasi. Rilis guerrilla hit-and-run strikes. 

TNI bisa adopsi Israel's "Operation Defensive Shield" dan purchase Caterpillar D9 bulldozers. 

Paling baik adalah menghindari segala bentuk violence. Pisahkan kepala dari badan. Ambil satu per satu. Lumpuhkan secara terukur dan cepat. Jangan biarkan virus menguat dan berkembang menjadi penyakit yang menghancurkan Indonesia. 

THE END

Posting Komentar untuk "Modern Urban Warfare"