Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

 


 


Hikmah Di Balik Corona


Oleh: Dr E Handayani Tyas 
(Dosen FKIP & Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana UKI Jakarta)

SUDAH hampir setahun kita merasakan situasi hidup yang serba ‘sulit’ gara-gara corona. Namun, apakah kita cuma harus mengeluh tanpa solusi, meratapi, duduk diam dan tidak melakukan tindakan apapun? Jelas hal demikian akan menjadikan kita semakin terpuruk, malas, merasa bosan karena harus hidup menyendiri, tidak bisa bercanda ria, berkumpul bersama sekalipun dengan keluarga/saudara/teman sekantor, dan sebagainya. Inilah kenyataan hidup yang harus kita hadapi, tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.

Wabah ini memang ganas, tidak dapat dilihat dengan kasat mata tapi sungguh ‘menakutkan’ bagi kebanyakan orang. Belum lagi istilah OTG (Orang Tanpa Gejala), tiba-tiba bila di check ternyata hasilnya positif kena covid-19. Di mana-mana rumah sakit sudah penuh, sampai-sampai hotel dan wisma atlet digunakan untuk merawat orang yang kena covid-19, isolasi mandiri di rumah (ya kalau rumahnya memungkinkan/memadai; ya kalau kantor tempat kerjanya memadai; ya kalau tempat usahanya memadai). Semua usaha telah ditempuh, melelahkan, tapi pandemi covid-19 masih belum juga terkendali.  

Menjaga kesehatan masing-masing dengan rajin berolahraga, mengatur pola makan yang baik dan benar, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun lebih sering lagi, minum berbagai vitamin, mengonsumsi obat-obat herbal (empon-empon), menjaga jarak satu sama lain, semua sudah dilakukan. Bahkan vaksinasi pun telah diusahakan pemerintah dengan gigihnya. Kesemuanya itu membuat kebanyakan orang nyaris putus asa, dan bahkan ada yang dengan lantang mengatakan bahwa corona itu sesungguhnya tidak ada, seolah-olah mereka ini ‘berani mati!’

Mari kita analisis dengan pikiran jernih dan tidak emosional, begitu banyak korban berjatuhan, bahkan mereka adalah dokter, tenaga medis, rohaniwan, orang kaya, dan masih banyak lagi yang lain. Sepertinya corona ini tidak pilih kasih, tidak mempunyai rasa welas asih, tidak pandang bulu, semua dilibasnya. Sektor ekonomi, industri/perdagangan, dan pengusaha terpuruk, dunia pendidikan pun tidak luput dari keganasannya. Sekolah adalah dunia anak-anak untuk belajar dan bermain (play and learn) semua kena dampaknya, sebagaimana ditulis pada harian Kompas tanggal 2 Februari 2021; siswa PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) berkurang 600.000 orang. 

Oleh karena itu, mari kita lakukan tindakan (do, action), berpikir menerobos, kreatif dan inovatif, tinggalkan zona nyaman (comfort zone), jangan bertindak biasa-biasa saja. Jadikan pikiran kita tidak hanya berfokus pada virus melainkan mari kita fokuskan pada sistem kekebalan tubuh; kurangi rasa takut yang berlebihan, mari kita fokuskan ke perilaku yang dapat menyehatkan badan. Walaupun, saat ini kebanyakan orang mengalami ketakutan dan berbagai tekanan karena terjadinya hal-hal di bumi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kita coba telusuri, ada hikmah apa di balik ‘musibah’ corona ini? Berdasarkan hasil bincang-bincang dengan sejawat, mereka mencoba memutar (me-rewind) pikirannya ke belakang dengan mengubah pikiran negatif menjadi berpikir positif; antara lain sebagai berikut:

Dengan bekerja dari rumah (WFH), saya lebih bisa berkumpul dengan keluarga, menemani dan membimbing anak/anak-anak dalam belajar, mengolah dan menyediakan makanan kesukaan keluarga, rumah menjadi lebih bersih dan tertata rapi, dapat menyalurkan hobi mengatur tanaman, membuat aneka macam kue, menonton TV bersama, mendengarkan musik kesenangan, cukup istirahat – karena waktu tidak habis di jalan karena kemacetan, polusi udara, dan lain-lain.

Anak/anak-anak tumbuh kembang dengan karakter bagus karena WASKAT (pengawasan melekat), sehingga terhindar dari perilaku menyimpang (seperti merokok, tawuran dan salah gaul terutama para remaja yang sedang dalam pencarian jati diri). Anak/anak-anak menjadi tampak sehat karena tidak harus banyak jajan di luar yang tidak terkontrol menu dan kebersihannya.

Bukankah orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya? Sekalipun tidak semua orang tua berprofesi guru, namun pembentukan perilaku (behavior) dan sikap (attitude) peran orang tua sangatlah dominan. Orang tua mana yang tidak ingin anak/anak-anaknya berbudi pekerti luhur, sopan dan santun dalam berkomunikasi dan bertindak, membawa nama baik keluarga, serta berdisiplin dalam segala hal.

Kiranya kita tetap kuat/mampu melewati masa ‘sulit’ ini dengan berpikiran positif, seperti: ‘Jangan panik, karena kepanikan adalah separuh dari penyakit; sedangkan ketenangan adalah separuh dari obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan’.  Dari BUMI – kita belajar kehidupan; dari MATAHARI – kita belajar memiliki semangat; dari BATU – kita belajar ketegaran; dari KUPU-KUPU – kita belajar perubahan; dan dari COVID-19 – kita belajar kerendahan hati dan kepatuhan.

Di saat-saat seperti ini kita sangat membutuhkan kekuatan ekstra, yaitu DOA, sebuah kata yang kecil tetapi besar khasiatnya, percayalah! Mari kita mulai dari diri sendiri, dengan memiliki pikiran positif artinya kita beriman kepada Tuhan, patuh pada peraturan pemerintah, dan tetap menaruh pengharapan, karena satu-satunya yang tidak pernah padam adalah dipunyainya harapan dalam kehidupan setiap manusia.

Posting Komentar untuk "Hikmah Di Balik Corona"