Pemerintah Pacu Transformasi Digital Melalui e-Smart IKM

"Nilai transaksi e-commerce Indonesia, sebagaimana diprediksi oleh Bank Indonesia, berpotensi mencapai Rp572 triliun pada akhir tahun 2023."

Jakarta, wartamerdeka.info, - Pemerintah tengah melaksanakan percepatan transformasi digital nasional. Sejalan dengan agenda pembahasan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 dan Organization of Economic Co-Operation and Development (OECD) sektor industri, Kementerian Perindustrian memberikan perhatian khusus agar dapat meningkatkan potensi ekonomi digital melalui transisi Industri Hijau dan digitalisasi untuk mendorong efisiensi energi dan sumberdaya lain.

Dilansir dari laman Kominfo, Minggu (10/12), agenda transformasi digital industri  menjadi bagian dari Making Indonesia 4.0 yang dicanangkan sejak tahun 2018. Gerakan Making Indonesia 4.0 meliputi industri skala besar, industri kecil dan menengah (IKM).

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyatakan dalam Peta Jalan Making Indonesia 4.0, IKM diarahkan untuk memanfaatkan perkembangan teknologi melalui penguasaan literasi digital di sisi pemasaran dan penjualan, serta dukungan teknologi di sisi manufaktur untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing produk.

“Kami memiliki program e-Smart IKM yang membantu pelaku IKM untuk memperluas akses pasar melalui pemasaran digital. Kami bekerja sama dengan marketplace ternama seperti Tokopedia, Shopee, BliBli, BukaLapak, dan juga asosiasi e-commerce Indonesia (idEA),” tuturnya di Jakarta, Sabtu (11/11/2023).

Program e-Smart IKM Ditjen IKMA sejalan dengan semangat Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang diluncurkan Presiden Joko Widodo. “Gernas BBI merupakan gerakan bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mencintai dan membeli produk lokal,” kata Reni.

Menurutnya dia, pemasaran digital menjadi keahlian yang harus dikuasai pelaku usaha manapun di era modern.

“Didorong oleh kondisi pandemi Covid-19 yang sempat melanda Indonesia dan peningkatan penetrasi teknologi digital di Indonesia, konsumen mengalami perubahan selera berbelanja, dari yang semula belanja secara konvensional dengan mengunjungi toko menjadi belanja daring (online),” ujarnya.

Ini didukung oleh data pengguna internet, pengguna e-commerce, dan nilai transaksi e-commerce Indonesia.

Laporan “Digital 2023: Indonesia” mencatat pada Januari 2023 terdapat 212 juta pengguna internet di Indonesia, dengan penetrasi internet mencapai 77%. Kemudian Statista Market Insights juga melaporkan bahwa ada 179 juta jiwa pengguna e-commerce di Indonesia pada tahun 2022, dan diprediksi mencapai 196 juta pada tahun 2023.

Nilai transaksi e-commerce Indonesia, sebagaimana diprediksi oleh Bank Indonesia, berpotensi mencapai Rp572 triliun pada akhir tahun 2023.

“Kalau dilihat datanya, sebenarnya ini peluang yang harus dimanfaatkan. Sekarang hanya bermodal smartphone saja, pelaku usaha bisa memperluas pasar dan meningkatkan penjualan tanpa perlu keluar biaya dan energi besar dibanding cara pemasaran konvensional. Jadi, sudah murah, mudah, efektif juga, jadi sangat cocok untuk pelaku IKM,” lanjutnya.

Lokakarya

Beberapa waktu lalu, Ditjen IKMA menggelar lokakarya bertajuk “Workshop Peningkatan Pemasaran Digital Bagi IKM Aneka, Kimia, Sandang, dan Kerajinan di Kota Bandung”. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian program e-Smart IKM 2023.

Acara tersebut dihadiri sebanyak 200 pelaku IKM fesyen dan kriya Bandung dan sekitarnya. Lokakarya ini merupakan inisiasi bersama dari Ditjen IKMA, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung

Dengan menghadirkan narasumber dari Founder PALA Nusantara dan Master Trainer dari Tokopedia, peserta lokakarya disuguhi materi berupa pengenalan terhadap loka pasar (marketplace), cara menggunakannya, dan juga pemanfaatan fitur-fiturnya. Materi lain yang diberikan adalah praktik teknik fotografi produk menggunakan ponsel agar pelaku IKM dapat menghasilkan foto produk yang baik di loka pasar hanya dengan peralatan sederhana.

“Di marketplace, keputusan konsumen sangat berpengaruh pada foto produknya, jadi harus bagus. Produk sudah bagus tapi kalau fotonya buram, angle-nya kurang bagus, menyebabkan konsumen tidak tertarik,” ujar Reni.

Lokakarya diharapkan menjadi langkah awal bagi pelaku IKM kota Bandung dan sekitarnya untuk mulai mengadopsi atau mengoptimalkan pemasaran digital. Menurut dia, pemasaran digital jika ditekuni pelaku IKM dan disertai dengan upaya pengembangan usaha lainnya akan memiliki dampak yang sangat besar dalam memenangkan kompetisi pasar.

Pada kegiatan pembukaan, Reni memberikan kisah sukses jenama Kampoeng Radjoet yang menaungi Sentra Rajut Binong Jati Bandung, agar peserta semakin tertarik, termotivasi, dan terinspirasi untuk menerapkan pemasaran digital.

“Sejak 2015, Kampoeng Radjoet aktif mengikuti pelatihan pemasaran digital dan menerapkannya, termasuk program e-Smart IKM 2018. Hasilnya, mereka tidak hanya berhasil bertahan melewati masa pandemi, tapi juga berkembang hingga menjadi shopping village seperti sekarang,” pungkas Reni. “Kampoeng Radjoet juga tahun 2020 lalu dinobatkan sebagai akun baru terbaik Shopee karena berhasil mendapatkan 1.000 pesanan dalam sehari,” paparnya.

Reni juga berpesan kepada peserta lokakarya untuk terus aktif mencari ilmu, bermitra, berinovasi, dan melakukan upaya lainnya untuk terus meningkatkan daya saing. “Kisah sukses Kampoeng Radjoet tentunya bukan hasil yang dicapai sendiri. Mereka memberdayakan perajin sentra dan bermitra dengan berbagai pihak, jadi di era kolaborasi ini pelaku IKM memang sudah seharusnya turut melebarkan jaringan usaha,” tuturnya.

Jika melihat berbagai kisah sukses pelaku IKM, dapat disimpulkan bahwa dalam mengembangkan bisnis para pelaku IKM, tidak hanya kemampuan pemasaran digital yang perlu didorong, tetapi juga dari kegigihan, konsistensi, inovasi, penguatan ciri khas dan upaya-upaya lainnya selama bertahun-tahun. (**) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama