Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Jelang Pilkada Serentak Hilangkan Syak Wasangka dan Narasi Tendensius (4)



Oleh : W. Masykar
Sebaiknya, nafsu ingin memenangkan kontestasi harus dengan permainan cantik dan pola pola yang elegan. Siapa saja, paslon nya jika selalu mengedepankan syak wasangka dengan melempar berbagai ragam isu yang tidak jelas dan memelintir - apalagi pilkada adalah kontestasi memilih pemimpin yang bukan sekadar pinter dan cerdas tapi juga sosok yang bisa diteladani.

Mendekati pelaksanaan pilkada serentak, di Lamongan misalnya, bukan saja perang banner tapi juga perang isu yang tidak jelas. Hujatan selalu mewarnai di setiap platform media sosial. Pada konteks ini, masyarakat sebaiknya tidak langsung menelan setiap isu yang diunggah di medsos atau media informasi lainnya, tapi mencari perbandingan - informasi yang balance - adalah hal yang harus dilakukan. 

Kedua paslon harus saling mengerem laju emosional yang bisa membuat gaduh wilayah. Bahwa setiap paslon menginginkan menjadi pemenang adalah hal wajar. Tapi jika hasrat ingin menang itu, bahkan menabrak rambu rambu etika dan etik bisa jadi malah menjadi blunder dan membuat suasana wilayah menjadi hangat. 

Tulisan terdahulu, "Pilkada Lamongan, Blunder, Framing Jalan Rusak dan Ganti Bupati" (3), ternyata (meski tidak seratus persen benar) setidaknya bisa membuat paslon nomor 2 kian terodongkrak elektabilitasnya.
Pada konteks pemilu (pilkada) James Freeman Clarke (1810-1888), suatu waktu pernah membuat statemen, seorang negarawan lebih berpikir tentang bagaimana nasib generasi mendatang, sementara politisi hanya berpikir bagaimana memenangkan pemilu yang akan datang.

Bakal pemimpin seyogianya tidak hanya memacu hasrat ingin memenangkan perlombaan, apalagi dengan menggunakan segala cara, akan tetapi juga berpikir tentang regenerasi, keteladanan dan membangun etika komunikasi yang baik.

Apalagi dengan menempatkan model model kampanye yang tendensius dan syak wasangka, bukan saja pelan tetapi pasti akan merugikan, bahkan membuat suasana kehidupan bermasyarakat menjadi saling curiga antar pendukung. (Bersambung)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama