// Setelah gempa melanda Jepang utara, peringatan tsunami dikeluarkan lalu kemudian dicabut, namun masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi gempa mega. // Harga minyak mentah Brent melonjak naik lebih dari 7 persen karena Washington dan Teheran memberikan keterangan yang bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata. // China sejauh ini telah berhasil melewati krisis minyak bersejarah. Namun, saat Xi bersiap bertemu Trump, biaya mulai meningkat. // Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengkritik komentar Trump tentang Paus Leo XIV //

Pineapple

Jepang memperingatkan potensi gempa dahsyat setelah gempa berkekuatan 7,7 melanda.


Para pejabat Jepang telah mengeluarkan peringatan setelah gempa berkekuatan 7,7 melanda wilayah timur laut negara itu pada tanggal 20 April. Mereka memperingatkan bahwa gempa dahsyat dapat terjadi dalam seminggu ke depan dan menyerukan agar masyarakat tetap bersiap menghadapi peristiwa seismik besar lainnya.

Kementerian Pertanian Berhasil Kembangkan Bio Diesel-100

Berpotensi Hemat Rp26 Triliun

Peserta  Diskusi Tematik Bakohumas meninjau proses produksi B-100, di Sukabumi, Jabar, Jumat (5/7). (Foto: Anisa/Humas)
SUKABUMI (wartamerdeka.info) - Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menyelenggarakan forum tematik bertema “Bio Diesel B-100 Sebagai Alternatif Bahan Bakar Masa Depan”, di Lido Lake Resort, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (4/7) dan Jumat (5/7).

Ketua Umum Bakohumas, Doddy Setiadi, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum, dan Keamanan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bambang Gunawan mengatakan, impian Indonesia mempunyai energi terbarukan bukan hanya angan-angan semata.

“Kementerian Pertanian telah berhasil mengembangkan bahan bakar Bio Diesel B-100 atau 100% Biosolar (green fuel) di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat di Indonesia,” kata Doddy.

Bio Diesel B-100 ini, jelas Doddy, bermanfaat dari segi ekonomi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Dari segi ekonomi, pengunaan B-100 lebih murah 40% dibandingkan bahan bakar solar karena 1 liter solar hanya mampu menempuh jarak 9,6 km, sementara penggunaan 1 liter B-100 mampu menempuh jarak 13,1 km.

“Oleh karenanya, pengunaan B-100 berpotensi mampu menghemat devisa senilai Rp26,66 triliun,” ujar Doddy.

Sementara dari segi lingkungan, menurut Ketua Umum Bakohumas itu, pengunaan B-100 lebih ramah  lingkungan karena CO (Karbon Monoksida) yang dihasilkan lebih rendah 48% dibandingkan solar. Kemudian, dari segi pemberdayaan masyarakat mampu mensejahterakan petani sawit.

Pada Kamis (4/7), Kementan menghadirkan tiga pembicara yang juga melakukan penelitian terhadap Bio Diesel B-100. Sesi pertama dibuka oleh Sam Herodian, Staf Ahli Menteri Kementan, yang membahas tentang “Kebijakan B100 sebagai Alternatif Bahan Bakar Masa Depan”. Lalu Desrial, Ketua Umum Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (Perteta), yang berbicara mengenai “Peluang dan Tantangan Pengembangan Bio Diesel dan Industrialisasi Kedepan”. Kemudian ditutup oleh Syafaruddin, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Kementan, dengan tema presentasi “Progres Penelitian Penelitian B100”.

Keesokan harinya, Jumat (5/7), peserta Bakohumas diajak berkeliling Agro Widyawisata Ilmiah Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementan. Di sana, para peserta Bakohumas melihat proses pembuatan Bio Diesel B-100, serta berkunjung ke kebun kopi dan kakao milik Balittri Kementan. Tak lupa, para peserta Bakohumas pun disuguhi minuman kopi dan cokelat hasil olahan Balittri Kementan.

Forum Tematik Bakohumas kali ini dihadiri oleh kurang lebih 100 pejabat pengelola kehumasan dari 48 Kementerian dan Lembaga, Organisasi Profesi, serta perwakilan Senat Mahasiswa.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama