// Pasar saham UEA di Dubai dan Abu Dhabi telah kehilangan sekitar $120 miliar sejak perang AS-Israel terhadap Iran. // Indeks saham Nikkei 225 turun lebih dari 2.000 poin (+4%), pada Senin pagi, di tengah kekhawatiran konflik di Iran akan meningkat dan mengganggu pasokan minyak mentah. // Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Amerika Serikat sedang merencanakan serangan darat meskipun dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri perang. //

Berita Foto

Wisata

Profil: Anda AH

Juru Bicara Houthi Memperingatkan Serangan Jika Kapal AS Menyerang Iran dari Laut Merah


JAKARTA (wartamerdeka.info) - Seorang juru bicara pemberontak Houthi di Yaman telah memperingatkan kemungkinan serangan terhadap militer AS jika kapal angkatan laut Amerika menyerang Iran dari Laut Merah.

Lanjut...

WMChannel


 

IMF Prediksi Dampak Ekonomi Covid-19 Terasa Hingga Akhir 2021


NEW YORK (wartamerdeka.info)  - Aktivitas perekonomian global yang terdampak pandemi virus corona atau Covid-19 mungkin tidak akan pulih sepenuhnya hingga akhir 2021. Demikian disampaikan kepala ekonom International Monetary Fund (IMF) Gita Gopinath.

IMF telah merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi. Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi global bakal menyusut 3 persen tahun ini, lalu menguat 5,8 persen tahun lalu. Namun, pemulihan tersebut bersifat parsial.

"Hingga akhir 2021, kami memperkirakan aktivitas ekonomi masih lebih lemah dibanding proyeksi kami sebelum ada pandemi ini," kata Gita kepada CNBC.

Pandemi virus corona yang telah menginfeksi 2,4 juta orang dan menewaskan hampir 165.000 orang telah memaksa negara-negara di seluruh dunia menghentikan aktivitas ekonomi mereka. Bank sentral dan pemerintahan di seluruh dunia mengucurkan aneka stimulus dengan cepat untuk meringankan dampak dari wabah Covid-19.

"Dibandingkan krisis finansial global, respons sekarang lebih cepat dan lebih besar," kata dia.

Menurut IMF, perekonomian di seluruh dunia mengucurkan stimulus senilai US$ 8 triliun, tetapi sekitar US$ 7 triliun di antaranya berasal dari negara-negara G20.

"Kami lebih khawatir terhadap respons negara berkembang yang memiliki ruang fiskal yang ketat, dan harus menghadapi masalah neraca eksternal. Mereka berada di posisi yang sulit," kata dia. (*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama