Wabup Bong Ming Ming: Pemkab Bangka Barat Siap Kembangkan Wisata Sejarah Di Bukit Menumbing

Bung Karno Dan Bung Hatta Pernah Diasingkan Belanda Di Tempat Ini

 Wakil Bupati Bangka Barat Bong Ming Ming

PEMKAB Bangka Barat kini terus berupaya menggalakkan sektor pariwisata, dalam upaya pemulihan ekonomi. Apalagi Bangka Barat ternyata memiliki potensi obyek wisata yang cukup banyak, baik wisata alam maupun wisata sejarah.

"Kami, sekarang memang  tengah menggalakkan sektor pariwisata, terutama yang terkait dengan wisata sejarah," ujar Wakil Bupati Bangka Barat Bong Ming Ming SE dalam wawancara khusus dengan wartamerdeka,  kemarin.

Salah satu obyek wisata yang tengah dikembangkan adalah Pesanggrahan Menumbing yang berada di daerah Muntok.

Lokasi heritage ini berjarak lebih kurang tiga jam perjalanan dari Kota Pangkalpinang. Sementara jika bertolak dari Palembang membutuhkan waktu empat jam perjalanan laut menggunakan kapal cepat fiber.

Muntok sendiri dikenal sebagai kota pengasingan tempat para pahlawan kemerdekaan setelah terjadi agresi militer Negara Belanda pada tahun 1949 di Yogyakarta.

Menurut Wabup Bong Ming Ming, Bangka Barat mempunyai pesona alam yang  begitu memikat, baik wisata alam pegunungan maupun pantai.

Pantainya unik karena pasirnya memiliki warna putih bersih. 

Ada juga batu granik yang memiliki berbagai bentuk sehingga menjadikan kabupaten ini punya potensi yang besar di sektor pariwisata. 

"Saat ini yang tengah jadi perhatian Pemkab Bangka Barat untuk dikembangkan lebih intensif adalah wisata sejarah di Bukit Menumbing. Di sini ada Pesanggrahan Menumbing yang dulu pernah menjadi tempat  pengasingan tokoh-tokoh bangsa, seperti Bung Karno dan Bung Hatta," ungkap Bong Ming Ming.

Pesanggrahan Menumbing merupakan rumah peristirahatan atau penginapan yang awalnya dimiliki oleh Perusahaan Timah Belanda Banka Tin Winning (BTW), dibangun sekitar tahun 1927-1930. 

Pesanggrahan Menumbing

Pada tahun 1927, J.G. Bijdendijk yang merupakan kepala BTW menyetujui pembangunan hotel ini dengan fasilitas modern yang mewah. 

Berghotel (bukit peristirahatan) Menumbing secara resmi dibuka pada tanggal 28 Agustus 1928 dengan fasilitas-fasilitas seperti listrik, air mengalir, telepon, serta lapangan tenis. 

Jalan masuk komplek ini melewati jalan aspal berliku yang cukup hanya untuk satu mobil. Jalan ini dibangun oleh pribumi dan para pekerja dari China yang dibayar oleh BTW. 

Secara umum pesanggrahan Menumbing terdiri dari tiga buah bangunan yang bergaya arsitektur de stijl yang memiliki denah persegi panjang dengan dua lantai. 

Bagian atapnya dibuat datar berfungsi sebagai menara pandang.

Dalam rangka menjajah kembali Indonesia, Belanda meluncurkan agresi militer ke II. Dalam peristiwa ini, Pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkan beberapa pemimpin Bangsa Indonesia. 

Pada tanggal 22 Desember 1948 rombongan yang diasingkan ke Pesanggrahan Menumbing, di antaranya; Drs. Moh. Hatta, Mr. A. Gafar Pringgodigdo, Mr. Ass’aat, dan Commodor Suryadarma. 

Kemudian Pada tanggal 31 Desember 1948 menyusul ke Pesanggrahan Menumbing yaitu Mr. Ali Sastroamidjoyo dan Mr. Moh Roem. 

Mereka bergabung dengan rombongan Mohammad Hatta di Pesanggrahan Menumbing. 

Pada 6 Februari 1948, Presiden Soekarno (Bung Karno) dan Haji Agus Salim menyusul diasingkan di Muntok. 

Pada mulanya penempatan semua pemimpin RI itu di Pesanggrahan Menumbing. 

Namun, Presiden Soekarno tidak nyaman dengan udara dingin, dan hanya bertahan enam bulan. Kemudian ditempatkanlah Bung Karno di Pensanggrahan Muntok yang ditemani dengan Agus Salim. Mohamad Roeam, dan Ali Sastroamidjojo juga ikut menyertai, setelah sebelumnya mereka ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing bersama Mohamad Hatta. 

Sebelumnya Belanda, sempat dikecam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena memperlakukan tahanan politik secara tidak baik. 

Dengan demikian para Pemimpin Republik Indonesia yang ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing ialah Drs. Moh. Hatta, Mr. A. Gafar Pringgodigdo, Mr. Ass’aat, dan Commodor Suryadarma.

Pesanggrahan Menumbing merupakan sebuah bangunan permanen berbahan batu dan semen yang dicat warna putih. Bangunan ini mirip benteng yang menghadap langsung ke Pelabuhan Muntok.

Selain bangunan utama serupa benteng, juga terdapat sejumlah bangunan kecil yang berfungsi sebagai gudang dan pos jaga.

Di sekitar benteng terdapat banyak lembah yang curam. Lembah hingga punggungan perbukitan di kawasan ini, masih terjaga kelestariannya. Pepohonan hijau tampak tumbuh lebat tinggi menjulang.

Di Pesanggerahan Menumbing ini, pelbagai barang peninggalan tokoh bangsa masih bisa ditemukan. Seperti berbagai foto, satu unit mobil Ford bernopol BN-10, hingga perabotan yang dulu pernah digunakan untuk menerima tamu-tamu penting.

Kini kawasan perbukitan Menumbing serta bangunan di atasnya telah dijadikan cagar budaya yang dilindungi sekaligus lokasi wisata sejarah.

Wabup Bong Ming Ming berharap, generasi milenial tertarik mengunjungi obyek wisata sejarah Pesanggerahan Menumbing ini, agar memahami dan bisa mengambil hikmah dari perjuangan para tokoh bangsa yang pernah "diasingkan" di tempat ini. (TH/Akun)



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama