Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Harga Pembelian Gula Petani Tidak Sesuai Ketetapan Pemerintah


JAKARTA (wartamerdeka.info) - Petani tebu berharap harga pembelian gula petani yang saat ini sebesar Rp.12.500 per kilogram disesuaikan harganya yang telah ditetapkan pemerintah.

    Hal ini disampaikan salah seorang petani di acara diskusi dengan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat kunjungannya ke Cirebon, Jawa Barat, Selasa (11/7).

    Seperti yang diberitakan ANTARA, Menteri Syahrul Yasin Limpo menerangkan, penanaman varietas tebu yang lebih baik diperlukan untuk mengatasi kesenjangan permintaan dan produksi dalam negeri serta mencapai swasembada gula.

    "Untuk mengejar produksi (permintaan) harus menggunakan varietas tebu yang lebih baik," tambah Limpo.

    Menteri Limpo menginformasikan, produksi gula nasional sudah mencapai 2,4 juta ton, namun kebutuhan dalam negeri sebesar 3,2 juta ton, yang berarti  ada gap 800 ribu ton.

    Menurutnya, varietas tebu yang digunakan petani saat ini kurang bagus, karena tingkat produktivitasnya hanya tujuh persen.

    "Oleh karena itu diperlukan varietas tebu dengan tingkat rendemen sembilan persen untuk meningkatkan produksi gula," ujarnya.

    Secara nasional, lanjut Menteri, luas areal perkebunan tebu 448 ribu hektare, dengan rincian 243 ribu hektare milik petani kecil dan 205 ribu hektare milik perusahaan.

    Ia juga menyoroti perlunya ratoning (pendistribusian) tebu untuk meningkatkan produksi nasional dan mencapai target swasembada gula pada tahun 2024.

    “(Upaya) maksimal dalam penanaman juga merupakan bagian dari strategi nasional, dan diharapkan tahun 2024 swasembada gula dapat tercapai,” ujar Limpo. (*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama