Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Syiar Islam Menampilkan Kolaborasi Budaya Jawa dan Syariat Islam

Perkumpulan Shalawat atau Majelis Shalawat biasanya menampilkan bacaan syair sakral berbahasa Arab. Namun berbeda dengan majelis Khoirul Bariyah yang menampilkan bacaan Surat Yasin Fadhillah dan Shalawat Surabuthahur.

Acara yang di selenggarakan dua kali dalam sebulan di setiap Jumat pertama dan ke tiga ini, mampu menyedot perhatian militer dan kepolisian. Pasalnya, peserta yang hadir dari berbagai kalangan, selain Militer, Polri, mantan preman, pendekar silat, para pelatih silat dan Ju Jitsu serta para pedagang. Tidak ketinggalan juga perkumpulan Budayawan Jawa.

Peserta acara dihadiri sebanyak 500, dari masing-masing undangan yang 20 orang membawa sekitar 25 anggotanya.

Ada yang berbeda dari majelis atau perkumpulan ini, yaitu adanya kolaborasi antara budaya Jawa dan Syariat Islam.

Ini dibuktikan saat pembukaan acara yang dimulai dengan Pambuko Wedhatama, kemudian Pembacaan Yasin Fadhillah, disusul Shalawat dan diakhiri dengan Doa Tembang Jawa.


Khodimul Majelis atau penggerak majelis terdiri dari 2 orang, yaitu Habib Muhammad Muchsin bin Musthofa Al-Haddar dan Gus Muhammad Yuda Faqih.

Bacaan Surat Yasin dan Shalawat dipimpin oleh Habib Muhammad Muchsin dan Tembang Jawa dan Doa Bahasa Jawa dipimpin oleh Gus Muhammad Yuda Faqih.

Kolaborasi ini sudah berlangsung lebih dari 2 tahun. "Kolaborasi dan asimilasi 2 budaya ini menjadikan majelis berbeda dari majelis majelis yang lain," kata Habib Muhammad Muchsin.

Seperti diketahui, Majelis ini sudah tampil di berbagai daerah, diantaranya Banyuwangi, Pasuruan, Probolinggo, Bangil dan benerapa daerah lainnya di penjuru Jawa Timur. (Hari-yudah)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama