Ramadan selalu punya dua suara yang bersahut-sahutan: suara azan Magrib dan suara perut. Yang satu memanggil ruh, yang lain memanggil gorengan. Di titik itulah saya ingin memperkenalkan satu istilah *MBG Makanan Buka berGizi*. Bukan sekadar asal kenyang, tapi kenyang yang beradab.
Belakangan ini, jagat percakapan publik juga riuh oleh program Makan Bergizi Gratis . Di warung kopi sampai ruang sidang, orang berdebat tentang anggaran, distribusi, efektivitas, bahkan sampai menu telur rebusnya direbus berapa menit. Sebagian mendukung dengan semangat 45, sebagian lagi mengkritik dengan semangat 98.
Tetapi di tengah riuh itu, saya teringat satu konsep lama yang justru sangat futuristik: *halalan tayyiban* Frasa Qur’ani yang sederhana, namun dalam maknanya. Halal itu soal status legalitas nilai. Tayyib itu soal kualitas kebaikan substansi. Halal menyentuh hukum, tayyib menyentuh hikmah. Halal menjawab “boleh atau tidak”, tayyib menjawab “baik atau tidak”.
Maka MBG dalam konteks Ramadan seharusnya bukan sekadar Makanan Buka Gratis (yang penting gratis, antre, lalu upload di story), tetapi Makanan Buka berGizi yang halal sumbernya, tayyib kandungannya, dan berkah cara memperolehnya.
Kadang kita ini unik. Siang hari ceramah tentang pengendalian diri, sore hari kalap di meja takjil. Piring kita seperti panggung konser: kolak, es buah, gorengan, cendol, kurma, martabak mini semua tampil tanpa audisi. Seolah-olah Magrib adalah balas dendam gastronomi. Padahal Rasulullah mencontohkan buka dengan yang sederhana yang cukup, bukan yang membuat perut rapat umum.
Di sinilah relevansi halalan tayyiban menjadi sangat kontekstual. Halal tidak cukup jika prosesnya manipulatif. Tayyib tidak tercapai jika gizinya minim dan hanya tinggi gula. Dalam bahasa kesehatan: bukan hanya mengisi kalori, tetapi memenuhi nutrisi. Dalam bahasa ruhani: bukan hanya mengenyangkan jasad, tetapi menenangkan batin.
Program Makan Bergizi Gratis yang hari ini menjadi diskursus nasional sesungguhnya memiliki ruh yang sejalan dengan tayyib. Ia berbicara tentang protein, zat besi, stunting, masa depan generasi. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak sekolah tidak belajar dalam keadaan lapar yang mengganggu fokus. Dalam perspektif pendidikan, ini investasi atensi; dalam perspektif kebangsaan, ini investasi peradaban.
Tentu saja, setiap kebijakan publik akan berhadapan dengan soal teknis: anggaran, pengawasan, distribusi, potensi politisasi. Itu wajar. Yang tidak wajar adalah jika kita hanya ribut pada bungkusnya, tetapi lupa pada substansinya: gizi adalah hak dasar. Anak yang kenyang bergizi lebih siap menerima ilmu; dan ilmu yang masuk ke tubuh yang sehat akan lebih lama menetap di kepala.
Ramadan memberi kita laboratorium kecil untuk memahami ini. Coba perhatikan: ketika sahur kita cukup protein dan serat, puasa terasa ringan. Ketika buka kita berlebihan gula dan minyak, tarawih terasa seperti lomba menahan kantuk. Artinya apa? Tayyib itu bukan teori; ia terasa di sendi, di lambung, bahkan di kekhusyukan.
Maka MBG Makanan Buka berGizi adalah gerakan sunyi yang bisa kita mulai dari rumah. Tidak harus mewah. Cukup seimbang: ada karbohidrat, protein, sayur, buah. Kurma secukupnya, bukan sekardusnya. Air putih yang jujur, bukan minuman warna-warni yang lebih mirip eksperimen laboratorium kimia.
Dan lebih jauh lagi, halal dalam konteks sosial berarti memastikan bahwa makanan itu tidak lahir dari praktik curang, tidak dari eksploitasi, tidak dari korupsi yang disamarkan sebagai kebijakan. Sebab makanan yang masuk ke tubuh akan menjadi darah; dan darah yang tumbuh dari yang tidak halal sering kali melahirkan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Saya membayangkan, jika semangat halalan tayyiban ini benar-benar menjadi fondasi baik dalam dapur keluarga maupun dalam desain program publik maka kita tidak hanya menghasilkan generasi yang tinggi badannya, tetapi juga tinggi akhlaknya. Tidak hanya kuat ototnya, tetapi juga kuat integritasnya.
Ramadan mengajarkan kita bahwa lapar itu guru. Ia mengajari empati, disiplin, dan kesadaran. Tetapi setelah azan berkumandang, yang kita butuhkan bukan pesta balas dendam, melainkan perayaan yang beradab. MBG bukan sekadar akronim; ia bisa menjadi etos.
Akhirnya, di tengah riuh program dan debat panjang di layar kaca, mari kita mulai dari piring kita sendiri. Sebab perubahan besar sering kali tidak dimulai dari podium, tetapi dari sendok pertama saat berbuka.
Kalau perut kenyang bergizi, hati pun lebih mudah diajak berdzikir. Dan ketika tubuh, akal, serta ruh berada dalam satu irama halalan tayyiban, di situlah Ramadan tidak hanya menggetarkan ia juga menyehatkan.

MasyaAllah sangat menginspirasi
BalasHapusMasyaAllah sangat menginspirasi
BalasHapusMasyaALLAH Tabarakallah
BalasHapus