![]() |
| Oleh: Kamaruddin Hasan |
Kita sering bercanda di group WhatsApp: Puasa kok malah marah-marah? Ini bukan intermittent fasting, ini intermittent angrying. Padahal, kalau ditelisik lebih jauh, bukan sekadar joke belaka tetapi ada “ilmu” berdiri di belakang ekspresi jengkel yang tiba-tiba muncul saat menunggu azan Maghrib.
Puasa di bulan Ramadan memang bukan lomba tahan haus semata, tapi sering terasa seperti kompetisi resmi antara perut dan emosi. Kenapa? Fakta ilmiah menunjukkan bahwa saat kita berpuasa, tubuh mengalami perubahan fisiologis yang bisa mempengaruhi suasana hati termasuk membuat kita lebih mudah hangry (hungry + angry). Itu bukan istilah konyol belaka; penurunan kadar gula darah selama puasa bisa mengganggu kemampuan otak mengatur emosi sehingga kita jadi cepat kesal, mudah frustrasi, atau kurang sabar terutama di sore hari menjelang buka.
Tapi tunggu dulu, sebelum kamu menyalahkan menu sahur yang cuma berisi gorengan dan es teh manis sampai ngelotok batin, ada penjelasan ilmiah lain yang masuk akal: selain gula darah turun, dehidrasi ringan akibat tidak minum seharian, kurang tidur karena sahur dan tarawih, serta withdrawal dari kafein atau nikotin juga bisa bikin mood memburuk. Jadi, bukannya “puasa bikin marah”, tapi pola puasa yang kurang fit bisa bikin emosi goyah.
Tentu saja dari sisi spiritual, marah saat puasa bukan barang baru. Dalam tradisi Islam, puasa idealnya bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari kata-kata kasar, perilaku buruk, atau ledakan emosi yang tidak perlu. Hadis klasik menegaskan: “Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga dari perkataan sia-sia dan perbuatan keji.” Jadi, kalau kamu marah dan langsung nge-reply all dengan CAPS LOCK karena iklan takjil belum keluar, itu mungkin bukan menu sahur-nya salah, tapi niat dan kesadaran emosinya yang perlu “direcalibrasi “ ( minjam istilah Prof. Hamdan Juhannis).
Kabar menarik lainnya: beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa secara umum mood positif seperti kebahagiaan dan keceriaan bisa meningkat selama Ramadan. Bahkan dalam satu studi, orang yang berpuasa cenderung merasa lebih bahagia dan kurang sedih dibanding periode sebelum Ramadan meski tubuh dan jadwal tidur terus berubah. Hal ini menunjukkan bahwa, seiring waktu berjalan, tubuh dan pikiran bisa beradaptasi dan emosi negatif seperti marah mungkin cuma “tamu sementara” di hari-hari awal puasa.
Jadi, kalau kamu merasa sering kesal saat puasa, jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu pemarah atau kurang sabar dibanding tetangga yang santai. Bisa jadi kamu cuma kurang carb loading di sahur, kurang cairan, atau tidur yang bolong-bolong karena nonton drama Ramadan sampai dini hari, he he.
Tapi di sisi lain, fenomena ini juga jadi panggilan batin: Ramadan bukan hanya soal stamina bertahan sampai azan Maghrib, tetapi juga soal latihan sabar & kontrol diri yang sesungguhnya. Puasa mengingatkan kita bahwa yang diuji bukan sekadar lambung, tetapi juga emosi lambung hati.
Jadi, ketika kamu tiba-tiba ingin ngamuk karena orang lain nanya “Kapan buka?”, tarik napas dalam-dalam, ingat niatmu bukan menu sahurmu dan sambut azan dengan senyum. Karena kalau niatnya sudah benar, insya Allah emosi juga ikut “reset”.
