Ramadan selalu datang seperti tamu yang membawa kedamaian. Ia hadir mengetuk pintu hati manusia yang sering kali terlalu sibuk dengan urusan dunia. Tanpa banyak kata, Ramadan mengajarkan kita untuk kembali menata diri, menundukkan ego, dan mengingat bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang apa yang kita bagi kepada sesama.
Sejak fajar pertama Ramadan menyingsing, hari-hari terasa berbeda. Pagi dimulai dengan sahur yang sederhana namun penuh makna. Siang dilalui dengan kesabaran menahan lapar dan dahaga. Sementara senja menghadirkan kehangatan saat doa-doa terucap sebelum berbuka.
Ramadan adalah perjalanan sunyi yang berlangsung di dalam hati. Ia tidak selalu terlihat oleh orang lain, tetapi perlahan membentuk keikhlasan, menumbuhkan empati, dan menghadirkan ketenangan yang jarang kita temukan di bulan-bulan lainnya.
Malam-malam Ramadan pun terasa lebih hidup. Masjid kembali dipenuhi langkah-langkah yang datang membawa harapan. Sujud menjadi lebih lama, doa-doa lebih tulus, dan langit seolah terasa lebih dekat bagi setiap hamba yang mengetuk pintu ampunan-Nya.
Namun waktu selalu berjalan, tanpa terasa, Ramadan 1447 Hijriah kini sampai di ujungnya.
Di sanalah perasaan manusia sering kali berada di antara dua sisi yang saling berpelukan. Ada kesedihan yang diam-diam tumbuh karena harus berpisah dengan bulan yang begitu penuh berkah. Seolah kita melepas sahabat yang telah menemani perjalanan spiritual selama sebulan penuh.
Tetapi di saat yang sama, ada pula kegembiraan yang perlahan menyala. Kegembiraan karena sebentar lagi kita menyambut hari kemenangan, hari yang disebut dengan penuh harap sebagai hari yang fitri.
Perasaan itu seperti senja yang memadukan dua warna langit sekaligus mempertemukan "dua rasa" . Ada haru yang lembut, tetapi juga ada cahaya bahagia yang menenangkan. Lalu tibalah pagi yang dinanti, Idulfitri.
Takbir menggema dari masjid ke masjid, dari rumah ke rumah. Suara itu mengalun seperti gelombang yang membawa pesan kemenangan. Bukan kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri.
Idulfitri bukan sekadar perayaan.Ia adalah momen pulang.Pulang kepada hati yang lebih bersih.Pulang kepada keikhlasan.Pulang kepada hubungan yang kembali dipererat oleh kata maaf dan pelukan hangat.
Di hari itu, tangan-tangan saling berjabat. Mata saling bertemu dengan ketulusan. Kata “maaf” mungkin terdengar sederhana, tetapi ia mampu mencairkan jarak yang selama ini terbentuk.
Ramadan telah mengajarkan kita tentang menahan diri.Idulfitri mengajarkan kita tentang memaafkan.Dan mungkin di situlah letak kemenangan yang sebenarnya.
Bukan semata karena kita berhasil berpuasa selama sebulan penuh, tetapi karena kita keluar dari Ramadan dengan hati yang lebih lapang, lebih lembut, dan lebih peduli kepada sesama.
Ramadan mungkin akan pergi, tetapi nilai-nilai yang ia tinggalkan tidak seharusnya ikut berlalu. Justru setelah Idulfitri, perjalanan baru dimulai, perjalanan untuk menjaga kebaikan yang telah kita latih selama bulan suci agar tetap hidup dalam keseharian.
Maka di ujung Ramadan ini, kita berdiri dengan dua rasa yang sama kuatnya,
Sedih karena harus melepas bulan yang begitu mulia dan bahagia karena menyambut hari kemenangan.
Dan ketika takbir terus menggema di langit Idulfitri, kita pun menyadari satu hal yang sederhana, bahwa setelah perjalanan panjang Ramadan, setiap hati akhirnya menemukan jalan untuk pulang.
Dengan segala kerendahan hati, memohon maaf atas segala khilaf dan salah.
Mohon maaf lahir dan batin.
(Syam M. Djafar)

"Berdiri diantara dua rasa". Masya Allah ...sedih dan haru.
BalasHapus