Takbir di Langit, Pemaafan di Hati (Edisi Idul Fitri)


Oleh : Kamaruddin Hasan

Hari Idul Fitri selalu punya suasana yang berbeda. Dari masjid-masjid, dari rumah-rumah, bahkan dari sudut-sudut lorong lorong  kecil, takbir menggema seperti gelombang yang saling menyahut.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Langit  terasa penuh oleh suara manusia yang mengakui kebesaran Tuhan. Ada yang melantunkannya dengan suara merdu dari pengeras masjid. Ada yang membacanya pelan di dalam hati. Ada pula yang tak sadar air matanya jatuh ketika takbir itu berulang-ulang diperdengarkan.

Takbir adalah pengakuan paling sederhana sekaligus paling mendalam bahwa Tuhan Maha Besar, sementara manusia hanyalah makhluk yang penuh keterbatasan.

Mungkin karena itulah, di malam Idul Fitri manusia terasa sedikit lebih lembut dari biasanya. Hati yang keras mulai melunak. Ego yang besar mulai mengecil. Orang-orang saling menelpon, saling mengirim pesan, saling meminta maaf.

Seakan-akan takbir yang menggema di langit itu sedang mengetuk pintu hati manusia.

Namun sesungguhnya, Idul Fitri tidak hanya soal takbir yang keras terdengar di udara. Idul Fitri juga soal pemaafan yang pelan bekerja di dalam hati.

Ramadan selama sebulan telah melatih kita banyak hal. Kita belajar menahan lapar, menahan haus, menahan emosi, bahkan menahan kata-kata yang seharusnya tidak keluar dari lisan kita.

Tetapi dari semua pelajaran itu, ada satu pelajaran yang paling sulit: belajar memaafkan.

Memaafkan tidak selalu mudah. Kadang ada luka yang terlalu dalam. Ada kata-kata yang terlalu menyakitkan. Ada sikap yang terlalu mengecewakan.

Sebagian orang mungkin bisa dengan mudah mengucapkan “saya maafkan”. Tetapi jauh di dalam hatinya, rasa sakit itu masih tersimpan rapi.

Di sinilah Idul Fitri sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sangat penting: kesucian hati tidak mungkin lahir jika dendam masih dipelihara.

Kita mungkin bisa tampil dengan pakaian baru. Rumah bisa kita cat kembali. Jalanan bisa kita hiasi lampu warna-warni. Tetapi hati manusia hanya bisa menjadi indah jika ia belajar melepaskan beban masa lalu.

Dalam tradisi masyarakat kita, Idul Fitri selalu diiringi dengan satu kalimat yang sangat populer: mohon maaf lahir dan batin. 

Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi sebenarnya ia adalah kalimat yang sangat dalam.

Di dalamnya ada pengakuan bahwa kita tidak sempurna. Ada kerendahan hati untuk mengakui kesalahan. Ada keberanian untuk memperbaiki hubungan yang pernah retak.

Menariknya, sering kali yang paling sulit meminta maaf bukan kepada orang yang jauh, tetapi kepada orang yang paling dekat dengan kita.

Kepada saudara sendiri.
Kepada sahabat lama.
Atau bahkan kepada orang tua.

Padahal justru kepada merekalah kita paling sering melakukan kesalahan tanpa sadar.

Karena itu Idul Fitri sebenarnya bukan hanya hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah hari ketika manusia diberi kesempatan untuk memulai kembali hubungan yang sempat rusak.

Hubungan dengan sesama manusia.
Hubungan dengan keluarga.
Dan tentu saja hubungan dengan Tuhan.

Takbir yang menggema di langit seolah mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah benar-benar besar. Sebesar apa pun jabatan seseorang, setinggi apa pun status sosialnya, pada akhirnya ia tetap seorang hamba yang membutuhkan ampunan.

Kesadaran inilah yang seharusnya membuat kita lebih mudah memaafkan.

Sebab orang yang sadar bahwa dirinya sering salah biasanya tidak terlalu berat untuk memaafkan kesalahan orang lain.

Sebaliknya, orang yang merasa dirinya selalu benar sering kali paling sulit memaafkan.

Padahal dalam kehidupan ini, tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari kesalahan.

Kita semua pernah melukai hati orang lain. Pernah berkata terlalu keras. Pernah bersikap terlalu egois.

Karena itu Idul Fitri datang setiap tahun seperti sebuah undangan spiritual: undangan untuk membersihkan hati.

Bukan hanya dari dosa kepada Tuhan, tetapi juga dari luka kepada sesama manusia.

Jika takbir adalah suara yang mengisi langit, maka pemaafan adalah cahaya yang membersihkan hati.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari Idul Fitri: ketika manusia mengakui kebesaran Tuhan, sekaligus belajar merendahkan egonya di hadapan sesama.

Sebab pada akhirnya, kemenangan Ramadan tidak hanya diukur dari seberapa kuat kita menahan lapar selama sebulan.

Kemenangan sejati justru terlihat dari seberapa lapang hati kita untuk memaafkan.

Ketika takbir menggema di langit, semoga pemaafan benar-benar tumbuh di hati.

TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM.

Mohon Maaf lahir dan Batin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama