JAKARTA (wartamerdeka.info) - Inggris menjadi tuan rumah pertemuan virtual pada hari Kamis untuk membahas cara mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Perwakilan dari lebih dari 40 negara, termasuk Jepang, menghadiri acara tersebut.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menjadi tuan rumah pertemuan tersebut. Ia mengatakan blokade Iran terhadap jalur air tersebut telah "menyandera ekonomi global."
Ia mengatakan mereka telah bersatu dalam "tekad kolektif untuk mengamankan kebebasan navigasi dan membuka kembali selat tersebut."
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang mengatakan para peserta terus mengkritik penutupan efektif selat oleh Iran. Menteri Luar Negeri Motegi Toshimitsu menyerukan negara-negara lain untuk berupaya memastikan pasokan energi global yang stabil.
Pemerintah Inggris mengeluarkan pernyataan setelah pertemuan tersebut. Pernyataan itu mengatakan mereka membahas peningkatan tekanan diplomatik terhadap Iran terkait masalah ini, dan menolak penggunaan biaya tol.
Mereka juga membahas kemungkinan sanksi serta bekerja sama dengan Organisasi Maritim Internasional untuk membebaskan ribuan kapal dan pelaut yang terjebak di selat tersebut.
Pertemuan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengecam negara-negara lain pada hari Rabu karena tidak berbuat cukup untuk mengamankan selat tersebut.
Selama acara Paskah di Gedung Putih, ia mengatakan negara-negara Eropa dan Asia "mendapatkan banyak minyak dari selat tersebut," menyebut Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Ia juga menekankan bahwa mereka harus mengamankan selat tersebut. (NHKWord/**)
