Skip to main content

Soal Lumpur Yang Ganggu Perahu Nelayan, PT. DOK Dan PPN Brondong Saling Tuding



LAMONGAN (wartamerdeka.com) - Soal areal laut tempat tambat perahu nelayan penuh lumpur, kotor dan berbahu (seperti yang ditulis wartamerdeka.com belum lama ini),  membuat kantor UPT Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong-Lamongan, Jatim dan PT. DOK Perkapalan Surabaya, yang melakukan kegiatan reklamasi laut saling melempar tanggungjawab. Mereka mengklaim volume lumpur yang mengakibatkan laut, bukan saja kotor dan berbau, tapi juga sangat menggangu aktifitas nelayan di pantura kota Soto itu, bukan pengaruh dari kegiatan reklamasi yang dikerjakannya. Padahal, pantauan dilapangan masalah tersebut tak bisa dilepaskan dari adanya kegiatan tersebut.
 “Yang melakukan reklamasi itu PT DOK Perkapalan Surabaya di sebelah pelabuhan kami yang ada di perkampungan Jompong (Brondong), kalau di kami ada pemeliharaan kolam pelabuhan oleh kapal kami sendiri dengan perbandingan 60:70,” kata Dedy Sutisna, kepala UPT PPN Brondong-Lamongan.
Kepala PPN boleh mengklaim kalau saat ini pihaknya tidak melakukan kegiatan reklamasi laut, namun endapan lumpur yang membuat nelayan geram adalah dampak dari reklamasi yang dilakukan oleh PPN beberapa waktu kemarin. Selain itu, langsung atau tidak kegiatan reklamasi PT, DOK saat ini juga dianggap berpotensi adanya dampak terhadap aktifitas nelayan.

“Oh, ya kalau DOK kan nggak produk lumpur. Karena pinggir urugkan diplenseng batuan seberat 250 kg per biji batu(keliling),” papar Michael, penanggungjawab PT.DOK di Brondong. Ucapan tersebut dibuktikan dengan minimnya perhatian (kontribusi) PT. DOK terhadap nelayan, meski sedang melakukan aktifitas reklamasi saat ini. “Sejauh ini kontribusi PT. DOK terhadap nelayan belum ada, Mas!,” ujar salah seorang nelayan Brondong.
Hal senada diucapkan Wagiman, nelayan lainnya, pihaknya menyayangkan PT. DOK yang dianggap tak memberi perhatian terhadap nelayan, padahal langsung atau tidak saat ini kegiatannya cukup mengganggu aktifitas nelayan,” papar dia.
Sayangnya, Michael, penanggungjawab kegiatan rekalamasi laut PT. DOK, hingga berita ini ditulis belum memberi komentarnya meski sudah dihubungi. (Mas)

Comments

Populer

Delegasi Palestina Mengaku Merasa Bangga Ikut Kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Delegasi Palestina mengaku marasa bangga ikut sebagai salah satu peserta dalam kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival yang akan di laksanakan pada 14-17 Oktober 2017.

Sambut TOF, Hari Ini Mambo Kuliner Tasik, Buka Mulai Pagi Hingga Malam Selama Dua Hari

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Mambo Kuliner Nite Tasikmalaya yang biasanya hanya dilaksanakan satu minggu sekali serta buka hanya pada setiap malam sabtu saja di Jalan Mayor Utarya Kota Tasikmalaya,  kini buka selama dua hari berturut-turut pada 14-15 Oktober 2017.

Mengapa Artis Sinetron Lidya Pratiwi Sampai Terlibat Pembunuhan?

Penulis: Aris Kuncoro

Kalau ada berita yang cukup mengejutkan pada pekan lalu, terutama di bidang hukum dan kriminalitas, maka salah satunya adalah soal ditangkapnya artis sinetron Lidya Pratiwi (19) oleh aparat kepolisian karena disangka terlibat pembunuhan berencana terhadap sesama artis yang juga teman dekatnya sendiri, Naek Gonggom Hutagalung (33).

Kasus ini menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Baik menyangkut keberhasilan para petugas reserse Polres Metro Jakarta Utara dalam mengungkap kasus ini, maupun menyangkut latar belakang dan motivasi para pelaku pembunuhan ini, yang menurut pihak kepolisian, melibatkan orang-orang di sekitar keluarga Lidya Pratiwi, seperti, Vince Yusuf (ibu kandung Lidya), Tony Yusuf (paman Lidya), dan Ade Sukardi (teman Tony). Kisahnya benar-benar mirip cerita di sinetron.

Kasat Reserse Polres Jakut Komisaris Andry Wibowo mengatakan, keberhasilan pengungkapan kasus ini didapat setelah polisi menggabungkan penyelidikan elektronik, penyelidikan forensik, dan…

Produksi Minuman Keras Ilegal Merek ‘’Rajawali’’, Komisi B DPRD DKI Minta Pemerintah Tegas Menindak CV Jakarta Indonesia Makmur

JAKARTA – Keberadaan pabrik yang memproduksi minuman keras (miras) illegal bermerek ‘’Rajawali’’ di bawah bendera CV Jakarta Indonesia Makmur di Jalan Kemuning Raya No 19/20 Kelurahan Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat telah meresahkan warga setempat. Bahkan kini sejumlah pihak mendesak agar perusahaan tersebut segera ditutup.

CV Jakarta Indonesia Makmur menurut sejumlah sumber pemiliknya bernama Pieter ini telah memproduksi minuman keras dengan kapasitas lumayan besar, bahkan mencapai ribuan botol setiap hari.

Pabrik miras bermerek ‘’Rajawali” ini tadinya diproduksi di bawah ‘’bendera’’ CV Jakarta. Namun, terhitung mulai tanggal 16 Nopember 2009, CV Jakarta ditutup dan berganti nama badan hukumnya menjadi CV Jakarta Indonesia Makmur dengan logo yang sama persis dimiliki oleh CV Jakarta dengan alamat yang sama pula.


CV Jakarta sendiri telah dilarang memproduksi minuman keras merek ‘’Rajawali’’ karena telah menggelapkan pajak cukai sekitar Rp 5 miliar. CV Jakarta seharusny…

SMA N 9 Kota Bekasi Sukses Gelar Kompetisi Olahraga NSC

BEKASI (wartamerdeka) - Kegiatan kompetisi olahraga bertajuk  Niners Sport Competition (NSC) yang ke 4 tahun 2017 sukses digelar SMAN 9 Kota Bekasi.