Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


 


Eksistensi Jatidiri Rumah Sakit PGI Cikini Diambang Keruntuhan

Foto: Logo dan Rumah Sakit PGI Cikini

JAKARTA (wartamerdeka.info) - Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat (RS PGI Cikini) yang telah eksis 120-an tahun lalu, dengan ‘image’ (citra) ‘Rumah Sakit Ginjal’, mungkin menjadi buram dan akan runtuh selamanya, karena akan berganti nama dan performance. 

Padahal, Rumah Sakit PGI Cikini ini sudah sangat dikenal masyarakat di se-antero Nusantara, khususnya dalam penanganan penyakit ginjal. Dengan Instalasi Ginjal yang dirintis Alm. Prof. dr. R.P. Sidabutar, SpPD-KGH sebagai unit Penyakit Dalam Ginjal dan Hipertensi (PDGH), diakui mampu menangani berbagai problem penyakit ginjal. Bahkan sejarah mencatat, Prof. R.P. Sidabutar dengan RS Cikini merupakan penyelenggara transplantasi ginjal terbanyak di Indonesia sampai tahun 2015.

Dikutip dari id.wikipedia.org/wiki/RSPGICikini, bahwa sebagian besar transplantasi ginjal di Indonesia, dilakukan di RS PGI Cikini oleh tim PDGH dan Urologi. Bahkan RS PGI Cikini pernah mendapatkan rekor MURI, sebagai Rumah Sakit Penyelenggara Transplantasi Ginjal dengan pasien transplantasi yang hidup paling lama. 

RS PGI Cikini tercatat sebagai pelopor dalam melakukan hemodialisis (HD) dan juga CAPD (Continuos Ambulatory Peritoneal Dialisis) secara terintegrasi. RS PGI Cikini juga dikenal sebagai pusat pelatihan tenaga dokter umum dan perawat mahir dialisis, dan telah memberikan sumbangsih yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan SDM terkait dialisis di seluruh Indonesia.

Sedangkan Instalasi Saraf dirintis oleh alm. Prof. S.M.L. Tobing, dimana pada saat ini telah memiliki layanan penyakit saraf terpadu dengan kelengkapan diagnosis melalui MRI, EEG, dan EMG. Stroke Unit RS Cikini dengan 18 tempat tidur, dilengkapi fasilitas neurorestorasi, yang diresmikan oleh Ibu Negara Almh.Ibu Ani Yudhoyono pada tahun 2007 silam, dengan nuansa taman khas RS Cikini.

Diketahui, RS PGI Cikini berdiri sejak 12 Januari 1898 sebagai RS Ratu Emma (Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini). RS Cikini didirikan oleh Ny. Adriana Josina de Graaf-Kooman, istri misionaris Belanda, dengan tujuan untuk merawat orang-orang sakit dari berbagai golongan masyarakat tanpa memandang kedudukan dan untuk semua suku, bangsa, dan agama dengan motto: “Sedare Dolorem Opus Divinum Est” yang artinya Meringankan penderitaan adalah pekerjaan Ilahi dan Pelayanan kesehatan sebagai jawaban dan kesaksian iman Pelayanan Kesehatan Kristiani.

RS Cikini berada di area seluas 5,6Ha, di tempat bersejarah yang sebelumnya merupakan rumah pelukis kenamaan Raden Saleh berlokasi di Jalan Raden Saleh Nomor 40, Cikini, Jakarta Pusat. RS PGI Cikini memberikan layanan kesehatan lengkap untuk berbagai bidang medis, baik untuk pasien rawat jalan, maupun pasien rawat inap dengan kapasitas sekitar 350 tempat tidur, di kamar rawat bernuansa taman. 

Sejak awal didirikannya pada tahun 1898, Rumah Sakit swasta yang kini berada di bawah naungan Yayasan Kesehatan PGI Cikini ini, menerima pasien tanpa membedakan asal-usul, ras, agama, status sosial dan kebangsaan. Berdasarkan informasi terkini, ada 178 Dokter Spesialis yang tergabung di RS Cikini, selain 30-an Dokter Umum, dan didukung total karyawan, dokter, perawat dan bidan sebanyak 673 orang, untuk memberikan layanan kesehatan paripurna.

Belakangan ini beredar rumors, bahwa eksisteni RS PGI Cikini akan ditenggelamkan dengan alasan masuknya investor, karena RS PGI Cikini dinilai merugi terus. Bagi sebagian besar dokter senior yang sudah puluhan tahun mengabdi disana, merasa heran dan gelisah.

Yang menjadi pertanyaan besar bagi mereka adalah, mengapa harus mengorbankan kebesaran nama RS PGI Cikini yang sudah ratusan tahun melekat dan akrab di benak masyarakat, dengan rencana kehadiran investor. Apakah benar harus solusinya demikian, atau mungkin manajemennya yang memang perlu diperbaiki, tanpa harus menggadaikan eksistensi RS PGI Cikini? 

Dalam sebuah perbincangan dengan beberapa Dokter senior, di bilangan Jakarta Pusat, Kamis, 10 Juni 2021, salah seorang dokter yang sudah 50 tahun mengabdi, dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD, KGH Dipl./ M.Med. Si Nephr (UK) mengatakan, dirinya juga heran, apalagi dia merasa sangat berhutang kepada RS PGI Cikini.

“Terus terang saya katakan, saya sendiri juga sangat heran. Saya sangat merasa berhutang kepada RS PGI Cikini, yang telah memberi banyak kesempatan bagi saya untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan, dalam meningkatkan pelayanan optimal kepada masyarakat,” ungkapnya kepada awak media siang itu (10/06/2021).

Dikatakan Tunggul D. Situmorang, dirinya mendapat kesempatan menjadi ahli Penyakit Dalam, meningkatkan keilmuannya meraih Diploma dan S-2 ke Inggris,dan menjadi Konsultan Ginjal Hipertensi  karena kepercayaan dan kesempatan yang diberikan manajemen RS PGI Cikini. Tentu juga atas dukungan Prof. dr.R.P Sidabutar yang menjadi perintis dan pionir ahli ginjal pada waktu itu. 

Ketika perihal rumors yang beredar ditanyakan kepada beliau, mantan Direktur RS PGI Cikini, yang kini juga masih menjabat sebagai Kepala Instalasi PDGH ini mengatakan,semua upaya yang bertujuan memajukan RS PGI Cikini patut dihargai, namun  sesungguhnya ada hal yang perlu secara serius dikaji soal itu.

“Sesungguhnya, sangat penting dan serius untuk dikaji, apakah harus dengan cara menggadaikan eksistensi nama besar RS PGI Cikini yang menjadi solusi terbaik, dengan masuknya investor, atau hanya soal manajemen yang betul-betul harus profesional yang menangani, tanpa harus merubah image yang menjadi jatidiri maupun performance? Yang pasti tidak sesuai dengan missi , visi dan tujuan di dirikannya RS PGI Cikini dan perjalanan pelayanannya yang sudah 123 tahun. Ini yang menjadi persoalan. Pertimbangan apa yang dibuat? Sudah sejauh mana audit dan verifikasi yang dilakukan? Apakah diagnosisnya sudah diyakini betul-betul, sehingga hal itu yang menjadi pilihan?,” katanya.

Menurutnya, masih banyak yang perlu dibenahi secara internal, dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kesehatan di RS PGI Cikini belakangan ini. Termasuk soal peluang dan pemberdayaan potensi yang dimiliki, penyediaan obat-obatan, sarana dan prasarana penunjang, regenerasi peralatan medis pendukung yang semakin hitech, dan sistem manajemen yang lebih beradaptasi terhadap tuntutan perkembangan teknologi digital dan informasi. 

Sebab itu, dia berpendapat, bahwa diagnosis manajemen sangat strategis, sebagai kunci penentuan pengobatan maupun alternatif tindakan  selanjutnya.

“Jika diagnosis terhadap RS PGI ini salah, maka dipastikan tindakan yang diambil sebagai langkah selanjutnya juga akan salah,” tandasnya.

Ketika perihal adanya dugaan berbagai pihak, dimana pihak Yayasan Kesehatan PGI Cikini dan atau bersama PGI sendiri sejak tahun 2010 menempatkan para Direksi yang tidak berkompeten sehingga ‘by design’ merugi hingga bertahun-tahun, Tunggul mengatakan bisa jadi.

“Atau setidaknya para pembuat keputusan  tidak serious atau bahkan tidak ada waktu dalam mengelolanya sejak periode 10 tahun terakhir. Karena sebelumnya hingga tahun 2010-an, pengelolaan dan pelayanan RS PGI Cikini berlangsung sangat baik dan menunjukkan prestasi2 yang membanggakan. Keadaan saat ini, memang cukup ironis dan tragis,” sambungnya.

Karena itu, jika masih ingin eksis dan mengembalikan “kejayaan dan rekam jejak RS PGI Cikini” bahkan  untuk lebih maju ke depannya, tanpa mengorbankan visi, misi, tujuan dan motto atau falsafah yang ditetapkan para founder RS PGI Cikini, dibutuhkan transparansi, kejujuran dan ketulusan serta hikmat, dalam pengelolaan RS PGI ini.

“Agaknya perlu pengkajian dan telaah yang lebih detail dan mendalam, serta melibatkan seluruh civitas hospitalia, lintas professional terkait,  dan pertimbangan multi aspek  serta peran umat Kristiani yang terbeban untuk mengambil bagian dalam memulihkan RS PGI Cikini yang kita cintai ini,” pungkasnya.

Pandangan yang sama juga dilontarkan dokter spesialis bedah senior, dr. Tommy Halauwet, SpB, yang juga mantan Ketua Komisi Tinju Profesional Indonesia, dalam pertemuan tersebut. Bahkan dokter yang sudah puluhan tahun mengabdi di RS PGI Cikini itu sangat menyayangkan, bila pilihan PGI/Yayasan Kesehatan PGI Cikini akan mempersulit membangun image-nya kembali, apalagi jika dicampur-baurkan dengan unsur-unsur bisnis semata.

Dr. Tommy Halauwet sangat meragukan, jika penanganan ke depannya tidak tepat, apalagi adanya informasi mengenai rencana dibangunnya gedung baru dan sarana perparkiran yang membutuhkan area luas, yang sangat kental dengan orientasi bisnis.

“Pendapat saya dan rekan-rekan dokter lainnya, jika lebih dominan orientasinya ke arah bisnis, dengan penggunaan lahan seluas 4,5 hektar, dan infonya bangun gedung satu hektar, maka kita meragukan misi pelayanan kesehatan yang selama ini jadi ciri khas RS PGI Cikini, akan dapat dipertahankan,” bebernya. 

Dalam kesempatan tersebut, hadir juga beberapa dokter senior dan sejumlah dokter-dokter muda yang masih mengabdi di RS PGI Cikini. Mereka juga berharap, solusi yang akan ditetapkan nantinya tidak mengganggu pelayanan kesehatan yang menjadi prioritas, dan nama baik yang selama ini sudah kuat.

Sementara itu, dari berbagai informasi yang dihimpun, model pengelolaan yang mungkin sudah disetujui Yayasan Kesehatan PGI Cikini dengan calon investor dengan skema Build-Operate-Transfer (BOT), dimana penguasaan lahan akan menjadi hak pengelola. Namun hal ini tentu masih dalam penelusuran berikutnya. (DANS)

2 komentar untuk "Eksistensi Jatidiri Rumah Sakit PGI Cikini Diambang Keruntuhan"

  1. Realita sejarah pelayanan RS PGI Cikini tidak diragukan sampai saat ini. Membangun dan mengupakan pelayanan klinis bagi masyarakat lintas agama, suku dan budaya bukan hal yg mudah. Jika RS PGI Cikini masih eksis itu tanda kemurahan kasih Sang Pencipta yang terus berkarya melalui para Pelayan Medis (dokter dan nakes), suporting staf yang memadai, serta ketersediaan sarana penunjang layanan kesehatan.
    Sebab itu performa dan kualitas pelayanan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu untuk memenuhi harapan masyarakat sebagai pengguna layanan klinis.
    Dukungan etik dan moral menjadi kebutuhan yg tidak dapat dielakan. Pemangku kepentingan mempunyai peran penting dalam mengembangkan layanan klinis yang bermutu. Karena itu inovasi untuk meningkatkan kualitas layanan medis sangat diperlukan, namun tidak sampai harus kehilangan misi kemanusiaan. Tidak mengorbankan kepentingan umum karena mengejar properti atau keuntungan materiil. Marilah kita menjadikan RS PGI Cikini sebagai salah satu RS Yang Hadir Untuk Membawa Misi Kehidupan Di Tengah Ancaman Yang Cenderung Mematikan. Tetaplah pada misi mulia yaitu Kehidupan bagi umat manusia sejagat.

    BalasHapus