Antisipasi Virus PMK, Pasar Hewan di Lamongan Ditutup

LAMONGAN (wartamerdeka.info) - Pada tahun 1986, Indonesia telah dinyatakan bebas dari PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, kerbau, domba dan babi. Kasus ini kembali ditemukan di 4 kabupaten di Jawa Timur berdasarkan hasil laboratorium tanggal 5 Mei. Empat Kabupaten tersebut adalah Kabupaten Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Lamongan. 

Diperkirakan asal usul virus PMK ini kembali masuk  ke Indonesia akibat adanya impor ilegal kambing/domba dari negara yang belum bebas PMK.

Itu disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat melakukan kunjungan di Kabupaten Lamongan Minggu (8/5), didampingi Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Indyah Aryani. Kunjungan tersebut dalam rangka peninjauan pengobatan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). 

Gubernur Khofifah, mengatakan pemerintah provinsi dan daerah yang terjangkit telah dan sedang melakukan koordinasi bersama dirjen peternakan dan kesehatan hewan, pusvetma (pusat veteriner farma), dan BBVET (Balai Besar Veteriner) dan melakukan tindakan pada hewan yang terkonfirmasi PMK dengan memberikan suntikan obat-obatan berupa analgesik, antibiotik dan vitamin.

"Pendekatannya relatif agak mirip dengan pengendalian  covid-19, sehingga yang ditemukan positif PMK maka harus diisolasi. Ternak dari daerah yang terkonfirmasi PMK jangan keluar, dan yang di luar jangan masuk, sambil proses pengobatan berlangsung," kata Khofifah.

Menurut Gubernur, proses penyebaran PMK melalui angin, karbon, sehingga radius angin memungkinkan penyebarannya bisa cepat. Selain itu juga kaitannya dengan lendir, sehingga berpotensi 1 kandang tertular. Oleh karena itu, beliau menghimbau agar pasar hewan sementara harus ditutup.

"Dari proses kemarin dan hari ini kita lihat setelah dua kali suntik relatif sudah mulai ada proses pemulihan, maka kita berharap nanti 3 hari lagi akan ada proses penyuntikan kembali baik analgesik, antibiotik, maupun vitamin, mudah-mudahan setelah itu sudah langsung membaik," tambahnya.

Terkait vaksin virus yang pernah digunakan pada tahun 1986, pemprov telah melakukan pengajuan penetapan status outbreak (wabah) pada 4 kabupaten agar dapat mengajukan permintaan vaksin melalui OIE.

Di Lamongan, menurut Bupati Yuhronur Efendi, kasus ini berawal dari deteksi sapi di Dusun Pilanganom Desa Balungwangi Kecamatan Tikung. Gejala tersebut muncul pada sapi yang baru dibeli yang nampak hipersalivasi, nafsu makan turun, panting, dan suhu tubuh agak demam.

Pelacakan dan pengujian, lanjut bupati Yes telah dilakukan oleh tim Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan hingga 6 Mei, dan diperoleh hasil 4 dari 27 kecamatan di Lamongan terserang suspect PMK, yakni Kecamatan Tikung, Kembangbahu, Sarirejo, dan Turi. Total populasi yang terjangkit di Kabupaten Lamongan yakni 215 ekor dari 23 peternak. Selain itu juga telah dilakukan edukasi pada peternak untuk menahan ternak yang sakit untuk tidak dijual,  melakukan pengobatan simtomatik dan supportif pada kasus, serta melakukan kerjasama lintas sektoral. 

"Sementara pasar hewan dilakukan penutupan, untuk menghindari penularan yang lebih besar lagi. Mencegah masuknya ternak baru dan keluarnya ternak yang sakit, saya harap masyarakat tetap tenang dan tidak panic selling, InsyaAllah semua akan baik-baik saja," ucap Pak Yes. (Mas)

Posting Komentar untuk "Antisipasi Virus PMK, Pasar Hewan di Lamongan Ditutup"