Skip to main content

Kafe Flowers Disegel Pemkot Bekasi

BEKASI  (wartamerdeka.com) - Pemeritah kota Bekasi menurut dan menyegel kafe Flowers yang sebelumnya bernama kafe Marsanda di Jl. Kp. Dua Rt 05/ RW 15, Kel. Jakasampurna, Bekasi Barat, Selasa (24/4/12)  karena dinilai tidak memiliki  ijin dan meresahkan masyarakat. Kabag Hukum Pemerintah kota Bekasi Sudiana, saat ditemui di lokasi penyegelan mengatakan Kafe yang sudah beroperasi sejak 15 tahun lalu belum mengantongi ijin dari pemerintah kota Bekasi baik ijin usaha ataupun ijin tempat hiburan dan dianggap meresahkan warga masyarakat sekitar.

Lurah Jakasampurna, Muhamad Bunyamin juga mengatakan, masyarakat memang resah dengan adanya kafe ilegal itu. Sehingga harus ditutup selain tidak adanya ijin dari dinas terkait.

"Kafe ini menyalahi tiga peraturan daerah. Kami berkewajiban melakukan sanksi penyegelan ini 
sebagai efek jera," ujar Muhamad Bunyamin.

Peraturan yang dilanggar itu, antara lain Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2007  tentang Retribusi Izin Penyelenggaraan Usaha Jasa Kepariwisataan di Kota Bekasi, Perda  14/2009 tentang Retribusi Izin Gangguan, Perda 6/2011 tentang Retribusi Izin Mendirikan  Bangunan, serta Perda 10/2011 tentang Ketentuan Umum Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan.

"Kehadiran kafe ini legal dan tidak disetujui masyarakat. Selain mengganggu ketentraman  warga, aktivitas di kafe ini juga meresahkan. Tidak cuma karaoke hingga subuh, tetapi juga terjadi jual-beli minuman keras," kata Bunyamin.

Sebelum penyegelan dilakukan, kata dia, Camat Bekasi Barat sudah melayangkan tiga kali teguran. Namun, semua teguran tersebut diabaikan pemilik.

Sementara itu, Ketua RW 15, H.M. Yunus mengatakan mayoritas warga, khususnya warga yang rumahnya berada dekat dengan kafe, menolak keberadaan kafe itu.

"Dari 1.500 kepala keluarga di RW 15, mayoritas menolak karena terganggu dengan suara musik keras hingga pagi hari. Belum lagi dengan kekhawatiran peredaran minuman keras dan obat terlarang," kata Yunus.

Selain itu, kafe juga bersebelahan dengan rumah ibadah dan tempat pendidikan. Suara bising dari kafe membuat anak-anak sulit konsentrasi belajar dan umat terganggu ibadahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Metty (43), pengelola Flower's Cafe menampik alasan pemerintah menyegel tempat usahanya sebab semua dokumen yang disyaratkan telah dimilikinya. "Warga mana yang tidak setuju karena saya sudah memfotokopi 35 KTP warga yang memberikan dukungannya. Kalau mau menegakkan aturan, harus jelas dan jangan tebang pilih," kata Metty.

Metty mengaku segera menindaklanjuti penyegelan ini dengan memperlihatkan pada pihak terkait  kelengkapan dokumen yang dimilikinya. Prosedur itu ditempuhnya agar usaha yang baru  dibangkitkannya dalam dua bulan terakhir bisa kembali beroperasi. (don)

Comments

Populer

Delegasi Palestina Mengaku Merasa Bangga Ikut Kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Delegasi Palestina mengaku marasa bangga ikut sebagai salah satu peserta dalam kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival yang akan di laksanakan pada 14-17 Oktober 2017.

Sambut TOF, Hari Ini Mambo Kuliner Tasik, Buka Mulai Pagi Hingga Malam Selama Dua Hari

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Mambo Kuliner Nite Tasikmalaya yang biasanya hanya dilaksanakan satu minggu sekali serta buka hanya pada setiap malam sabtu saja di Jalan Mayor Utarya Kota Tasikmalaya,  kini buka selama dua hari berturut-turut pada 14-15 Oktober 2017.

Mengapa Artis Sinetron Lidya Pratiwi Sampai Terlibat Pembunuhan?

Penulis: Aris Kuncoro

Kalau ada berita yang cukup mengejutkan pada pekan lalu, terutama di bidang hukum dan kriminalitas, maka salah satunya adalah soal ditangkapnya artis sinetron Lidya Pratiwi (19) oleh aparat kepolisian karena disangka terlibat pembunuhan berencana terhadap sesama artis yang juga teman dekatnya sendiri, Naek Gonggom Hutagalung (33).

Kasus ini menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Baik menyangkut keberhasilan para petugas reserse Polres Metro Jakarta Utara dalam mengungkap kasus ini, maupun menyangkut latar belakang dan motivasi para pelaku pembunuhan ini, yang menurut pihak kepolisian, melibatkan orang-orang di sekitar keluarga Lidya Pratiwi, seperti, Vince Yusuf (ibu kandung Lidya), Tony Yusuf (paman Lidya), dan Ade Sukardi (teman Tony). Kisahnya benar-benar mirip cerita di sinetron.

Kasat Reserse Polres Jakut Komisaris Andry Wibowo mengatakan, keberhasilan pengungkapan kasus ini didapat setelah polisi menggabungkan penyelidikan elektronik, penyelidikan forensik, dan…

Produksi Minuman Keras Ilegal Merek ‘’Rajawali’’, Komisi B DPRD DKI Minta Pemerintah Tegas Menindak CV Jakarta Indonesia Makmur

JAKARTA – Keberadaan pabrik yang memproduksi minuman keras (miras) illegal bermerek ‘’Rajawali’’ di bawah bendera CV Jakarta Indonesia Makmur di Jalan Kemuning Raya No 19/20 Kelurahan Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat telah meresahkan warga setempat. Bahkan kini sejumlah pihak mendesak agar perusahaan tersebut segera ditutup.

CV Jakarta Indonesia Makmur menurut sejumlah sumber pemiliknya bernama Pieter ini telah memproduksi minuman keras dengan kapasitas lumayan besar, bahkan mencapai ribuan botol setiap hari.

Pabrik miras bermerek ‘’Rajawali” ini tadinya diproduksi di bawah ‘’bendera’’ CV Jakarta. Namun, terhitung mulai tanggal 16 Nopember 2009, CV Jakarta ditutup dan berganti nama badan hukumnya menjadi CV Jakarta Indonesia Makmur dengan logo yang sama persis dimiliki oleh CV Jakarta dengan alamat yang sama pula.


CV Jakarta sendiri telah dilarang memproduksi minuman keras merek ‘’Rajawali’’ karena telah menggelapkan pajak cukai sekitar Rp 5 miliar. CV Jakarta seharusny…

SMA N 9 Kota Bekasi Sukses Gelar Kompetisi Olahraga NSC

BEKASI (wartamerdeka) - Kegiatan kompetisi olahraga bertajuk  Niners Sport Competition (NSC) yang ke 4 tahun 2017 sukses digelar SMAN 9 Kota Bekasi.