Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


Merdeka Belajar Redefined


Oleh: Prof. Dr. H. Daniel Mohammad Rosyid

Sebelum pandemi ini, Menteri Nadiem Makarim telah meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar. Pandemi ini sesungguhnya memberi dorongan lebih besar agar kebijakan itu wujud. Ki Hadjar Dewantoro memberi wasiat bahwa tujuan pendidikan adalah membangun jiwa merdeka. Jiwa merdeka adalah prasyarat budaya bagi bangsa yang merdeka.

Kebijakan itu perlu diperkuat. Selama 50 tahun terakhir,"pendidikan terlalu dimonopoli oleh persekolahan" paksa massal. Disebut paksa massal karena pendidikan didekati secara pasokan dengan rancangan terpusat dari Jakarta. Kebutuhan belajar yang beragam serta potensi lokal dengan keragaman hayati yang luar biasa secara terstruktur, sistemik dan masif terpinggirkan.
Sektor agromaritim secara perlahan tapi pasti terbengkalai, sementara sektor industri subtitusi impor mendominasi. Urbanisasi besar-besaran terjadi di seluruh negeri karena produk persekolahan ini hanya menghasilkan tenaga trampil bagi para investor asing.
Pendekatan pasokan itu dibungkus dengan jargon mutu berbasis standard. Logika pabrik sepatu dipakai dengan sangat khusyu' dalam persekolahan paksa massal ini. Penyeragaman besar-besaran terjadi dengan Ujian Nasional sebagai semacam uji mutu secara terpusat. Tidak lulus UN berarti tidak mencapai mutu. Ini aib bagi siswa, dan memalukan guru dan sekolah. Akibatnya, UN menjadi berhala dan palu godam yang menakutkan semua insan persekolahan yang akhirnya tergoda untuk memanipulasi proses dan hasil UN.

Episode sesat itu jangan sampai terjadi lagi. Pendidikan tidak boleh lagi didominasi oleh persekolahan. Keluarga harus mengambil alih kembali tugas-tugas pendidikan bersama masyarakat. Persekolahan hanya bersifat melengkapi dan menambahi saja. Pendidikan harus lebih peka terhadap kebutuhan warga belajar dengan bakat, minat serta potensi lokal yang beraneka ragam. Relevansi personal, spasial dan lokal jauh lebih penting daripada mutu berbasis standard. Pendidikan harus lebih inside-out, bukan outside-in.

Paradigma mutu berbasis standard hanya boleh di berlakukan pada pendidikan vokasi dan profesi. Pendidikan dasar hingga umur 15 tahun barus lebih menekankan akhlaq, adab, kemandirian belajar, keakraban lingkungan sekitar rumah serta kecakapan berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat. Pendidikan ini harus menjadi tanggungjawab keluarga dan masyarakat sendiri. Persekolahan bisa membantu menyediakan sarana belajar dari pagi hingga petang seperti perpustakaan, akses internet, studio, bengkel, sarana olahraga dan seni bagi warga belajar. Guru menjadi tutor, community organizer dan sociopreneur.
Merdeka Belajar mensyaratkan keluarga yang berani mengambil prakarsa untuk menjadikan rumah sebagai satuan belajar yang diorganisasikan secara mandiri. Bagi muslim, masjid bisa menjadi simpul belajar bersama bagi jamaah masjid untuk berinteraksi secara lebih luas. Keluarga sebagai satuan edukatif juga bisa menjadi satuan produktif di mana anak-anak bisa membantu orang tuanya mengembangkan bisnis berskala kecil. Pemerintah dapat memfasilitasi penguatan keluarga dan masyarakat, bukan merampas tugas-tugas pendidikan keluarga dan masyarakat ini.

Rosyid College of Arts,
Gunung Anyar, Surabaya 1/7/2020. (Sudono Sueb)

Posting Komentar untuk "Merdeka Belajar Redefined"