TikTok YouTube Instagram Twitter Facebook WhatApp

Krisis kelaparan di Somalia memburuk karena kekeringan menyebabkan lebih dari 500.000 orang mengungsi. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // Setelah gempa melanda Jepang utara, peringatan tsunami dikeluarkan lalu kemudian dicabut, namun masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi gempa mega. // Harga minyak mentah Brent melonjak naik lebih dari 7 persen karena Washington dan Teheran memberikan keterangan yang bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata. //

Meneropong Sepak Terjang Sekjen PBNU Dalam Menyikapi Ajaran Wahabi

Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)

- Lawyer dan Pengamat Politik, warga Nahdliyin Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (1985-1991)

Lembaga Dakwah PBNU baru-baru ini meminta pemerintah membuat regulasi soal pelarangan ajaran Wahabisme di Indonesia, namun Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (SY) protes, dan meminta Lembaga Dakwah PBNU agar tidak mengeluarkan statement itu tanpa seizin Ketum (KH. Yahya Cholil Staquf) dan Sekjen (SY) serta Rais Aa PBNU (KH. Miftakhul Akhyar). 

Bagi saya protes Sekjen PBNU ini bukanlah semata soal penyimpangan prosedur organisasi yang dilakukan oleh Lembaga Dakwah PBNU sebagaimana yang mungkin SY maksudkan, melainkan alasan utamanya adalah ketidak sepakatan dari Sekjen PBNU (Saifullah Yusuf) itu sendiri soal pelarangan ajaran Wahabisme tersebut. 

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian warga NU (Nahdliyin) sudah lama terinfiltrasi oleh pemikiran Wahabisme, khususnya disaat bangsa ini mulai terbelah secara ideologis semenjak adanya pembelahan pilihan politik menjelang Pilpres 2014 dan 2019. 

Anasir-anasir FPI dan HTI menyusup ke basis-basis Nahdliyin dari level bawah hingga atas (pejabat struktural NU khususnya di tingkatan ranting, cabang hingga wilayah atau provinsi). Karena itulah dapat kita semua lihat, betapa dahsyatnya gangguan terhadap kepemimpinan PBNU di masa kepemimpinan KH. Said Aqil Shirad kala itu. 

Kelompok politisi NU yang kalah dan tersingkir di Muktamar NU yang ke 33 di Pondok Pesantren Tebuireng, kala itu diam-diam menjadi kekuatan oposisi KH. Said Aqil Shirad, dan mereka itu diantaranya adalah Saifullah Yusuf (SY). Maka tidak heran jika SY yang kala itu menjadi kelompok oposisi hubungannya nampak  mesra dengan kelompok Islam Politik khususnya dari unsur FPI dan HTI. 

Mungkinkah karena hal tersebut, SY banyak terpengaruh oleh pemikiran Wahabisme, hingga ketika SY menjadi Sekjen PBNU, ia tak mau menerimah jika Lembaga Dakwah PBNU meminta Pemerintah untuk membuat regulasi yang melarang penyebaran ajaran Wahabisme di negeri ini? Entahlah...

Namun nampaknya kita masih harus mau sejenak bersabar untuk melihat sejauh mana yang akan dilakukan oleh SY kemudian dalam menahkodai NU bersama Ketua Umumnya, yakni KH. Cholil Yahya Staquf, yang merupakan kakak dari Menteri Agama RI Gus Yaqut Cholil Qoumas, dan yang biasa kita kenal sangat kritis terhadap ajaran Wahabisme. 

Mampukah SY sanggup mempengaruhi Ketum PBNU untuk menggeser komitmen dan konsistensinya Ketum PBNU yang selama ini nampaknya juga sangat keras menyikapi maraknya ajaran Wahabisme? Mari kita tunggu pergerakan politik SY selanjutnya...(SHE).

03 November 2022.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama