Langsung ke konten utama

Populer

Tuhan Menyuruh Kita Lapar

MBG (Makanan Buka berGizi) (9)

Tuhan di Ujung Rindu (8)

Bupati Barru Lantik 153 Pejabat, Langkah Strategis Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Antara Takjil dan Takdir (7)

Semiotika Lidah Kekuasaan

 
    Oleh : *Kamaruddin Hasan

Bahasa adalah cermin jiwa. Dalam ruang kekuasaan, bahasa tidak sekadar alat komunikasi, melainkan simbol yang mewakili kehormatan, tanggung jawab, dan kepercayaan publik. Setiap kata yang lahir dari lidah seorang pejabat menjadi tanda-tanda tentang siapa dirinya, bagaimana ia memandang rakyat, serta sejauh mana ia memahami amanah yang diemban.

Belakangan, beberapa pernyataan dari anggota DPR menuai sorotan tajam. Kesalahan bicara atau nada arogansi yang terucap, meski mungkin lahir tanpa kesengajaan, telah memantik reaksi keras di ruang publik. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga menafsirkan makna yang tersirat di baliknya.
"bahasa pejabat adalah simbol keterhubungan antara rakyat dan penguasa"
Dalam semiotika kekuasaan, bahasa pejabat adalah simbol keterhubungan antara rakyat dan penguasa. Bila bahasa itu lembut, penuh penghargaan, dan sarat empati, maka rakyat akan merasakan kehadiran wakilnya. Namun bila bahasa itu melukai, bernada tinggi dan merendahkan, maka yang terbaca adalah jarak, ketidakpedulian, bahkan pengkhianatan terhadap amanah keterwakilan.

Oleh karena itu, yang dibutuhkan dalam kehidupan kebangsaan kita adalah kesadaran bersama bahwa lidah kekuasaan harus menjadi lidah yang menyejukkan, bukan memecah; lidah yang menguatkan kepercayaan, bukan menumbuhkan luka. Para pemimpin, pejabat, dan wakil rakyat seyogianya menyadari bahwa ucapan mereka adalah cermin kehormatan bangsa, bukan hanya pribadi.

Masyarakat pun hendaknya menyikapi peristiwa ini dengan bijak. Amarah boleh hadir sebagai wujud kepedulian, tetapi muaranya tetap harus menuju perbaikan. Kita semua, baik rakyat maupun pemimpin, perlu sama-sama menjaga bahasa agar ia tidak menjadi bara yang membakar, melainkan cahaya yang menerangi jalan kebangsaan.Pada akhirnya, semiotika lidah kekuasaan mengingatkan kita bahwa kata-kata bisa menjadi doa, bisa pula menjadi luka. Dalam Islam, lisan adalah amanah. Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “ Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim). Bahkan Al-Qur’an menegaskan, “ Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra: 53).

Pesan ini sederhana namun sangat dalam: setiap kata adalah tanggung jawab. Bagi seorang pemimpin, ucapan bukan hanya milik pribadi, melainkan cermin amanah yang dipikulnya. Karena itu, marilah kita bersama-sama menjaga bahasa: agar lidah kekuasaan tidak berubah menjadi lidah arogansi, tetapi menjadi lidah yang menebar kasih, keadilan, dan kebaikan.
Dengan begitu, bahasa tidak lagi menjadi bara yang membakar, melainkan cahaya yang menerangi jalan bangsa menuju persaudaraan dan kemuliaan.
Wallahu a’lam bisshawab.
*Penulis, Guru Besar Ilmu Pendidikan dan Keguruan UNM serta Rektor Institut Teknologi, Bisnis, dan Administrasi Al Gazali Barru

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Dasar antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak

Oleh : YM. Sjahrir Tamsi  Dalam dunia pendidikan, sertifikasi memiliki peran penting sebagai pengakuan resmi atas kompetensi seseorang dalam bidang tertentu. Namun, sering kali terdapat kebingungan untuk membedakan antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak.  Ketiga jenis sertifikasi ini memiliki fokus, tujuan, dan proses yang berbeda. Artikel ini membahas perbedaan mendasar di antara ketiganya berdasarkan peraturan perundang-undangan berlaku di Indonesia. 1. Sertifikasi Profesi Defenisi : Sertifikasi Profesi adalah pengakuan "Kompetensi Kerja" seseorang di bidang tertentu berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sertifikasi ini dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Ketiga (LSP-P3) yang independen dan terlisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi Republik Indonesia (BNSP RI). Tujuan : Memberikan pengakuan kompetensi profesional di berbagai sektor pekerjaan atau profesi. Menjamin tenaga kerja yang ...

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Ir Teuku Muhammad Syamsoe Bulganon Hasbullah Amir, pendiri YASKUM . Oleh: M. Aris Kuncoro JAKARTA (wartamerdeka.info) -  Ada khabar gembira dari Yayasan Kharisma Usada Mustika (YASKUM). Lembaga yang bergerak di bidang sosial ini kini tengah bersiap-siap hendak menyelenggarakan pesantren gratis dan sekolah umum gratis, bagi warga masyarakat tidak mampu. Untuk program sekolah umum gratis ini rencananya akan dibuka dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Andi Ina: Pastikan Golkar Rumah Bagi Kader

Makassar (wartamerdeka.info) - Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari yang juga Bendahara Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan menghadiri acara buka puasa dan tarwih berjamaah bersama AMPG Sulsel di Four Point Sheraton, Selasa (18/3/2025).  Selain Andi Ina, hadir Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, Bupati Selayar, Nasir Ali, Bupati Luwu, Patahuddin, Bupati Soppeng, Suardi Haseng, Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, dan Wakil Bupati Wajo, Baso Rahmanuddin.  Hadir pula anggota DPRD dari Fraksi Golkar Barru diantaranya, Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M. Si yang juga Ketua DPRD. Rusdi Cara, Herman Jaya dan Hacing.  Andi Ina mengatakan, momentum ini bukan sekadar berbagi hidangan berbuka, tetapi juga ajang memperkuat soliditas dan komitmen dalam membangun Golkar yang semakin kuat.  Tentu, katanya, pihaknya sebagai kader selalu siap mendukung setiap inisiatif yang mempererat barisan, memastikan bahwa semangat kekeluargaan dan kepedulian sosial tetap menjadi fondasi utam...