Semiotika Lidah Kekuasaan

 
    Oleh : *Kamaruddin Hasan

Bahasa adalah cermin jiwa. Dalam ruang kekuasaan, bahasa tidak sekadar alat komunikasi, melainkan simbol yang mewakili kehormatan, tanggung jawab, dan kepercayaan publik. Setiap kata yang lahir dari lidah seorang pejabat menjadi tanda-tanda tentang siapa dirinya, bagaimana ia memandang rakyat, serta sejauh mana ia memahami amanah yang diemban.

Belakangan, beberapa pernyataan dari anggota DPR menuai sorotan tajam. Kesalahan bicara atau nada arogansi yang terucap, meski mungkin lahir tanpa kesengajaan, telah memantik reaksi keras di ruang publik. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga menafsirkan makna yang tersirat di baliknya.
"bahasa pejabat adalah simbol keterhubungan antara rakyat dan penguasa"
Dalam semiotika kekuasaan, bahasa pejabat adalah simbol keterhubungan antara rakyat dan penguasa. Bila bahasa itu lembut, penuh penghargaan, dan sarat empati, maka rakyat akan merasakan kehadiran wakilnya. Namun bila bahasa itu melukai, bernada tinggi dan merendahkan, maka yang terbaca adalah jarak, ketidakpedulian, bahkan pengkhianatan terhadap amanah keterwakilan.

Oleh karena itu, yang dibutuhkan dalam kehidupan kebangsaan kita adalah kesadaran bersama bahwa lidah kekuasaan harus menjadi lidah yang menyejukkan, bukan memecah; lidah yang menguatkan kepercayaan, bukan menumbuhkan luka. Para pemimpin, pejabat, dan wakil rakyat seyogianya menyadari bahwa ucapan mereka adalah cermin kehormatan bangsa, bukan hanya pribadi.

Masyarakat pun hendaknya menyikapi peristiwa ini dengan bijak. Amarah boleh hadir sebagai wujud kepedulian, tetapi muaranya tetap harus menuju perbaikan. Kita semua, baik rakyat maupun pemimpin, perlu sama-sama menjaga bahasa agar ia tidak menjadi bara yang membakar, melainkan cahaya yang menerangi jalan kebangsaan.Pada akhirnya, semiotika lidah kekuasaan mengingatkan kita bahwa kata-kata bisa menjadi doa, bisa pula menjadi luka. Dalam Islam, lisan adalah amanah. Rasulullah ï·º pernah bersabda: “ Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim). Bahkan Al-Qur’an menegaskan, “ Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra: 53).

Pesan ini sederhana namun sangat dalam: setiap kata adalah tanggung jawab. Bagi seorang pemimpin, ucapan bukan hanya milik pribadi, melainkan cermin amanah yang dipikulnya. Karena itu, marilah kita bersama-sama menjaga bahasa: agar lidah kekuasaan tidak berubah menjadi lidah arogansi, tetapi menjadi lidah yang menebar kasih, keadilan, dan kebaikan.
Dengan begitu, bahasa tidak lagi menjadi bara yang membakar, melainkan cahaya yang menerangi jalan bangsa menuju persaudaraan dan kemuliaan.
Wallahu a’lam bisshawab.
*Penulis, Guru Besar Ilmu Pendidikan dan Keguruan UNM serta Rektor Institut Teknologi, Bisnis, dan Administrasi Al Gazali Barru

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Adv.