Oleh : Kamaruddin Hasan S etiap pergantian tahun, kita seperti datang ke loket harapan yang sama. Nomornya diganti, antreannya diperbarui, tetapi janji yang kita setorkan nyaris tak berubah. Kita menyebutnya resolusi, padahal sering kali itu hanyalah janji lama yang dicetak ulang dengan tinta tahun terbaru. Kalender berganti, jam berdetak ke angka baru, dan manusia serempak merasa lebih muda beberapa jam. Kembang api menyala bukan sekadar untuk merayakan waktu, melainkan untuk menegaskan bahwa kita masih punya harapan meski sebagian harapan itu adalah pengulangan dari yang pernah gagal kita tunaikan. Refleksi akhir tahun kerap diperlakukan seperti formalitas: sejenak merenung, lalu berlalu. Padahal refleksi sejati justru tidak ramah. Ia memaksa kita menoleh ke belakang tanpa menyalahkan keadaan, tanpa berlindung di balik alasan “belum waktunya” atau “keadaan belum mendukung”. Refleksi yang jujur selalu menyodorkan pertanyaan sederhana namun menusuk: apa yang benar-benar kita perba...